RESENSI

RESENTIE atau resensi adalah kupasan, ulasan, dan bahasan terhadap hasil karya. Tujuan tulisan ini untuk memberikan pertimbangan masyarakat bahwa sebuah karya layak untuk dinikmati. Biasanya resensi ini akan dipublikasikan di media massa, baik koran, majalah, atau jurnal. Namun seiring perkembangan teknologi kita bisa menjumpai resensi melalui media elektronik seperti halnya di media on line.

Memang resensi yang lazim pada karya-karya baru. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan orang menyajikan karya lama yang mungkin tidak lagi akrab di telinga masyarkat. Tujuannya tentu agar masyarakat kembali menyimak karya tersebut karena ada nilai-nilai yang layak diteladani. Nah, salah satu resensi berikut ini mengupas karya yang sudah lama. Namun, karya ini mengandung nilai-nilai yang tidak lekang dimakan zaman.

buku_jalan_menikung_umar_kayamJudul : Jalan Menikung: Para Priyayi 2
Penulis : Umar Kayam
Penerbit : PT. Pustaka Utama Grafiti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2002
Cetakan : V
Tebal : 184 halaman, 21 cm
Harga : Rp 25.000,00

Merasa tak asing dengan judul dan nama penulis novel ini? Ya, inilah kelanjutan dari novel Para Priyayi yang bercerita tentang perjuangan seorang anak petani bernama Sastrodarsono membangun keluarga priyayi. Novel tersebut diakhiri dengan keberhasilannya membangun keluarga priyayi seperti yang selalu diimpikannya. Dalam novel kedua ini, kisah keluarga Sastrodarsono berlanjut sampai ke generasi ketiga, bahkan kelima. Harimurti, cucu Sastrodarsono dari putranya yang ketiga, Hardoyo, akhirnya dapat hidup dengan normal kembali setelah melewati masa-masa yang pahit ketika ia ditahan karena dianggap terlibat dalam pemberontakan PKI. Ia sudah memiliki pekerjaan tetap, menikah dengan Sulistianingsih, wanita pilihan orang tuanya, dan kemudian memiliki seorang putra yang diberi nama Eko. Namun, kehidupannya kembali terusik oleh masalah yang masih berhubungan dengan kenangan pahitnya. Ia dipecat dari pekerjaannya karena dianggap “tidak bersih diri” alias pernah terlibat dalam pemberontakan PKI. Eko, yang bersekolah di Amerika Serikat, terpaksa tidak kembali ke Indonesia untuk bekerja karena dikhawatirkan juga akan terseret dalam masalah ini.

Akhirnya, ia tetap tinggal dan bekerja di Amerika Serikat bersama keluarga angkatnya, yang Yahudi. Keluarga Harimurti dan Sulistianingsih menjadi sangat sepi dengan tidak adanya putra tunggal mereka itu. Untung ada Lantip dan istrinya, Halimah, yang tidak memiliki anak karena terlambat menikah, yang selalu setia menemani dan menjaga mereka. Di Amerika, hubungan cinta Eko dengan putri dari keluarga angkatnya, Claire, ternyata berujung pada kehamilan Claire akibat pergaulan bebas. Eko pun akhirnya memutuskan untuk menikahi Claire. Keputusan ini kemudian ditentang oleh keluarganya karena alasan agama dan ras. Sementara itu, Tommi, cucu Sastrodarsono dari putra pertamanya, Nugroho, yang sudah berhasil dari segi finansial, berencana memugar makam keluarga besar Sastrodarsono di Wanagalih. Rencana ini tidak ditanggapi dengan positif oleh Harimurti dan Lantip karena perbedaan prinsip. Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan keluarga besar Sastrodarsono terus berlanjut, tidak terlepas dari masalah-masalah yang datang dan pergi. Layaknya badai, masalah-masalah itu berlalu juga dan menyadarkan mereka kalau mereka sudah menempuh jalan menikung dari jalan hidup priyayi yang sesungguhnya.

Menarik bukan? Umar Kayam, penulis novel ini tidak pernah kehabisan ide-ide menarik. Peristiwa demi peristiwa terjalin indah dan mengalir menjadi sebuah cerita. Meskipun masalah-masalah yang diangkat sudah sering kita dengan dan saksikan tetapi tidak terlihat “basi”. Novel ini menarik karena kita bisa melihat masalah tersebut ditanggapi dengan sudut pandang yang berbeda. Novel ini juga membuka wawasan kita tentang banyak hal, misalnya terntang berbagai kebudayaan di dunia, yang dibahas dengan santai dan mengalir, sehingga kita tidak merasa seperti sedang membaca ensiklopedi melainkan seperti sedang mendengarkan cerita seorang kawan tentang pengalamannya. Novel ini juga sangat baik dibaca oleh generasi muda karena menyadarkan kita untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas di zaman, yang kata orang, “edan” ini. Selain itu, banyak nilai moral yang dapat dpetik dari novel ini.

Jika dibandingkan dengan Para Priyayi, novel ini mungkin terasa lebih “biasa” karena kurang terasa “greget” perjuangannya. Dalam novel ini, bisa dibilang gejolaknya sudah berkurang, alurnya pun menjadi lebih gampang ditebak. Selain itu, nilai-nilai budaya khas Indonesia pun sudah kurang terasa karena sudah lebih banyak digantikan oleh budaya modern yang terpengaruh oleh budaya asing.

Bagi yang belum pernah membaca Para Priyayi, Anda bisa memilih salah satu dari dua cara membaca kedua novel ini. Apabila Anda lebih senang mengikuti alur yang ditetapkan oleh penulis, maka Anda sebaiknya membaca Para Priyayi terlebih dahulu sebelum membaca novel ini.

Namun, jika Anda menyukai rasa penasaran saat membaca, maka Anda sebaiknya membaca novel ini terlebih dahulu, baru kemudian membaca Para Priyayi, karena dengan demikian Anda akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Anda selama membaca novel ini di dalam novel tersebut dan mengalami apa yang resensator sebut sebagai “sensasi flashback”. Cara manapun yang Anda pilih, Jalan Menikung: Para Priyayi 2 ini tetap sebuah karya sastra yang menarik dan layak untuk dibaca.

Salam
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.