Wawancara

interviewBerbagai kiat dan pengetahuan yang berhubungan dengan jurnalistik telah disampaikan dalam Dunia Diksi ini. Seperti halnya pengertian jurnalistik, jenis penulisan berita, manfaat mading di sekolah dll. Artikel yang baru-baru ini publish karya Mbak Hastira, Manfaat Mading bagi Pembelajaran dan yang paling gres tulisan admin dengan judul Teknik Meliput dan Menulis Berita. Semua tulisan itu menggambarkan betapa banyaknya tulisan yang berhubungan dengan pemberitaan atau kewartawanan. Satu hal penting yang juga harus dipahami dalam dunia kewartawanan adalah wawancara.

Wawancara merupakan proses pencarian data berupa pendapat, pandangan, pengamatan, pengalaman seseorang agar dapat menyampaikan sebuah berita. Pada hakikatnya kegiatan ini merupakan cara wartawan mencari dan mengumpulkan data. Tujuannya tak lain agar berita yang disampaikan sesuai dengan fakta. Di samping itu informasi yang diperoleh langsung dari nara sumber akan lebih objektif.

Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabnya adalah tidak. Dalam wawancara atau yang akrab kita kenal dengan istilah interview adalah prinsip tanya jawab. Tujuannya tak lain mengumpulkan dan menggali sebanyak mungkin informasi agar dapat mendapat jawaban penting. Tentunya jawaban-jawaban yang lebih proporsional dan bersifat akurat.Berdasarkan jawaban pertanyaan ini nantinya seorang wartawan akan mengolah sebuah sajian berita.
Agar memperoleh berita yang akurat, tentu harus mempersiapkan beberapa langkah sebelum melakukan wawancara. Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat, karakter, dan kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai.

Selain itu, menaati peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut menjadi point yang sangat penting. Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma dan etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan. Semua itu agar kita dapat dengan mudah beradaptasi terhadap lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.

Norma lain yang juga harus diperhatikan adalah agar pewawancara tidak mendebat nara sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, abaikan saja tidak perlu mendebatnya. Kalaupun harus mendebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias tidak ada kesan membantah. Tindakan yang terkesan menggurui nara sumber menjadi hal yang sangat tabu.

Hindarkan pula menanyakan sesuatu yang bersifat umum. Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu agar jawaban nara sumber lebih fokus. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin atau to the point. Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna pertanyaan pewawancara. Sebaiknya pewawancara juga tidak mengajukan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan pewawancara, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya. Sementara pertanyaan yang disebut sebelumnya bisa tidak mendapat jawaban.

Nah, dengan demikian semakin jelas bahwa wawancara menjadi hal yang sangat penting dalam menulis berita. Wawancara ternyata bukan sekadar bertanya kemudian menuliskannya menjadi sebuah berita. Dalam kenyataan, untuk melakukan wawancara memerlukan keahlian dan keterampilan. Kemampuan melakukan wawancara atau mengorek data dari nara sumber ini yang akan menentukan kualitas berita. Oleh karena itu ayo terus berlatih agar mampu menjadi pewawancara atau wartawan yang handal. Pelajari pula teknik dan persiapan dan metode wawancara pada artikel yang akan datang.

Selamat belajar dan salam. 09012015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.