Kepolosan si Tukang Semir Sepatu

ariyos.blogspot.com
ariyos.blogspot.com

Menunggu adalah pekerjaan paling menjemukan. Di sini, di stasiun kereta ini, aku, ayah dan ibuku sedang menunggu kereta yang akan membawa kami ke kota Surabaya. Kami akan berkunjung ke rumah nenek. Sambil menunggu kereta datang, aku berusaha menyibukkan diri dengan membaca tabloid anak-anak yang baru saja dibeli ayah.

Ketika sedang asyik membaca, konsentrasiku terganggu oleh pemandangan di depan mataku. Di bawah tiang lampu dekat rel kereta, kulihat seorang anak laki-laki, kira-kira seumuran aku, 10 tahun. Dia duduk termenung sambil mendekap tas berwarna coklat tua yang berbentuk kotak. Dia sendirian di situ, tak ada seorang dewasa pun yang menemaninya. Berulang kali dia mengusap peluh di dahinya. Wajahnya kusut, bajunya lusuh dengan sandal jepit warna kuning yang sudah berwarna pudar pula.

Apa yang dilakukannya, tanyaku dalam hati. Mengapa dia sendirian saja? Alangkah beraninya dia sendirian di tempat seramai ini.

Kulihat dia berdiri, berjalan dengan tertatih membawa tas yang kelihatannya sangat berat untuknya. Kuperhatikan, dia menghampiri seorang laki-laki setengah baya yang duduk di seberang tempat dudukku.

“Semir, pak?” suaranya lirih kudengar.

“Tidak, tidak,” kata bapak itu tanpa sedikitpun menoleh padanya.

Lalu dia berjalan lagi, menghampiri seorang wanita di sebelahnya. Tapi, belum juga dia berkata sepatah kata pun, wanita itu sudah mengusirnya dengan kasar. Aduh, kasihan sekali dia.

 Lalu aku menyenggol lengan ayah dan dengan sedikit gerakan kapala, aku menunjuk pada anak itu. Seakan tahu apa yang ada di dalam hatiku, ayah memanggil anak itu.

“Dik, semir.”

Seketika dia berbalik, berjalan gontai menghampiri kami.

 “Ini,” kata ayahku sambil memberikan selembar uang sepuluh ribuan.

“Tidak, Pak, terima kasih. Saya akan terima uang Bapak karena saya menyemir sepatu Bapak. Maaf, Pak.” Dengan halus dia menolak pemberian ayah.

Ayah terbengong-bengong, seakan tidak percaya dengan kepolosan anak ini.

“Ayo, terimalah….anggap ini sebagai hadiah dari bapak,” ayah sedikit memaksa.

“Tidak, Pak, maaf, terima kasih.” Dia beranjak akan meninggalkan kami.

“Ya sudah, semir sandalku, bisa?” kata ayah akhirnya.

“Bisa, Pak.” Dia duduk kembali. Sejurus kemudian dia sudah sibuk menggosok sandal ayah. Dalam hati aku tertawa, ayah ini aneh-aneh saja, sandal saja minta disemir.

Sesudah dia selesai menyemir, ayah menyodorkan uang lembaran sepuluh ribuan.

“Sebentar ya, Pak, saya tukarkan dulu. Saya tidak punya kembalian.”

“Tidak usah, ambil saja semuanya.” Ayah memaksa.

“Tidak, Pak, maaf, akan saya tukarkan dulu.” Bergegas dia berlari ke sebuah warung nasi untuk menukarkan uang tersebut.

Sementara dia menukarkan uang, ayah menyelipkan satu lembar uang lima puluh ribuan ke dalam tas anak itu. Ayahku memang baik, batinku. Tapi anak itu juga polos sekali, dia tidak mau menerima pemberian tanpa melakukan sesuatu.

Sungguh, aku tersentuh dengan perilaku anak ini. Jarang  menemukan anak seperti dia, di tengah-tengah kesulitan ekonomi seperti yang dia alami. Dengan usia yang mashi belia, dan ketika anak-anak lain asyik menikmati liburan sekolah, dia malah  rela bersusah payah bekerja.

2 Komentar

  1. Avatar

    pengen belajar nyemir sepatu ya om Kate?… :sungkem

  2. Avatar
    katedrarajawen

    Perlu belajar nih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.