Bangku Pengasingan

Sumber gambar : masyulilimuntii.blogspot.com
Sumber gambar : masyulilimuntii.blogspot.com

 Tampak Pak Timbul sedang menyebrangkan siswa dari sebrang  jalan. “Kiri Pak”, kataku pada supir lin (Angkot). Lin ku berhenti pas di pintu gerbang sekolahku. Aku turun dan ku ambil langkah pelahan masuk ke sekolah. Masih sepi sekolahku. Pak Arif pun juga masih menyapu dengan santai halaman sekolah. Ku teruskan langkahku menuju kelas. Tak ada orang sama sekali, sungguh masih sepi. Sudah menjadi hal biasa bagiku, datang lebih awal daripada teman-teman. Pagi-pagi buta aku sudah harus membantu ibu menyiapkan dagangannya di depan rumah. Ibu menjual nasi jual nasi kuning kecil-kecilan. Ya, pelanggannya hanya tetangga sekitar rumah. Setelah aku membantu ibu, aku harus bersiap-siap berangkat ke sekolah. Harus pagi-pagi benar aku berangkat. Karena, sulit sekali mencari lin di daerah tempat tinggalku. Maklum trayek atau jalan jurusannya memang sedikit peminat, jadi lin juga sedikit di sini. Aku biasanya naik lin milik tetanggaku yang jurusannya ke terminal utama kota Jember. Berangkatnya sangat pagi, agar aku tidak ketinggalan lin, maka aku selalu harus lebih pagi bersiap daripada sang pemilik lin. Ketika mesin lin sudah dinyalakan, itulah tanda lin sudah siap berangkat.

Oh iya, namaku Navia Soleha. Aku masih kelas depalan SMP. Aku dari keluarga sederhana. Ayahku meninggal saat aku masih berumur delapan tahun, seingatku saat itu aku masih kelas dua SD. Ibu dan aku tinggal berdua dirumah peninggalan ayah. Ayah membeli rumah itu dengan susah payah kerja serabutan selama hampir dua puluh tahun. Rumahku adalah istanahku. Bila dirumah orang berpunya ada toilet duduk di rumahku juga ada. Yakni duduk dulu baru masuk toilet. Hehehe… . Bercanda, kawan. Rumahku biasa bahkan bisa dikatakan kurang layak ditinggali. Tapi bagiku dan ibu sudah lebih dari cukup.

Jam dinding kelasku sudah menunjukkan pukul 07.25. Satu persatu teman-teman kelasku tiba. Mereka masuk dan meletakkan tas di bangkunya masing-masing. Ketika mereka masuk kelas, selalu ada sapaan yang rutin di lontarkan kepadaku. Begini, “Via Bluetooth! Irunge nggedhe cilik !” (Via Bluetooth! Hidungnya membesar dan mengecil!) dengan wajah tak suka dan sinis. Sebenarnya ini bukan sapaan. Namun hinaan. Aku hanya bisa merespon dengan kepala tertunduk dan sesekali membetulkan kerudungku untuk menghilangkan grogi ataupura-pura tak mendengar. Semua ini berawal ketika hari pertama masuk sekolah saat kelas tujuh. Giliranku memperkenalkan diri, aku ditertawakan oleh semua penghuni kelas. Saat itu aku memperkanalkan namaku “namaku Navia Soleha”. Sontak semua temanku tertawa. Sambil tertawa mereka bilang “Via Bluetooth!”. Masih tertawa terbahak-bahak. Lalu salah seorang teman kelasku bilang “irungmu lo! Kok nggedhe cilik ngono!” (hidungmu lo! kok membesar mengecil gitu!). Hidungku membesar dan mengecil sudah menjadi bawaan mulai kecil. Membesar dan mengecil atau mengembang dan mengempis secara terus menerus. Lalu kata bluetooth di ambil dari kebiasaan teman-teman jika ingin mengirimkan lagu atau foto dari handphone satu ke handphone lainnya menggunakan bluetooh, via bluetooth. Lengkap sudah panggilan ini.

Sapaan atau lebih pantas disebut hinaan itu hampir setiap saat ku terima di sekolah. Sangat perih yang ku rasakan sebenarnya. Tapi aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa berdoa dan memohon ampun pada-Nya. Aku tak pernah punya teman disekolah. Mempunyai teman menjadi impian terbesarku. Jangankan teman, yang menyapa saja tak ada. Bahkan, duduk pun aku sendiri di kelas. Biasanya teman-teman menyebut bangku yang ku duduki dengan bagku pengasingan. Semua ini ku jalani dengan apa adanya. Aku hanya berharap Allah bisa menurunkan kuasa-Nya.

Kadang aku berpikir, mana Allah yang katanya maha adil ? Aku tak pernah merasakan keadilan itu. Kenapa aku harus di bully ? Kenapa harus aku? Apa salahku selama ini ? Aku tak pernah mengusik hidup mereka, tapi mengapa mereka harus mengusik hidupku ? Semua pertanyaan ini adalah sia-sia dan cenderung suudzon pada-Nya. Aku harus huznudzon pada-Nya. Semua ini ada hikmahnya. Berpikir positif adalah kunci utamaku dalam bertahan dengan keadaan ini.

Ujian kesabaran terus datang kepadaku. Rasanya seakan badai yang datang menerpa tanpa henti. Pernah suatu saat, aku sedang ingin membeli makanan ringan untuk mengisi perutku. Kebutulan hari itu aku tak sarapan. Ibu tak masak pagi, karena beliau sedang demam tinggi, aku pun harus rela mengosongkan perut hingga bel istirahat berbunyi. Sebelumnya memang aku tak pernah ke kantin sama sekali sejak hari pertama aku masuk SMP. Aku takut dibully sepanjang jalan menuju ke kantin. Namun kali ini aku harus berani keluar dari kelas demi mengisi perutku yang keroncongan berat. Aku beranjak dari bangku pengasinganku. Ketika sampai di pintu keluar ada Ratna dan Sushi sedang mengobrol, saat aku lewat disamping mereka, mereka memandangiku dengan pandangan yang tak enak. Sinis sekali, tampak masam wajah mereka berdua. Aku berjalan terus saja tanpa memikirkan apa yang ada dikepala mereka. Jarak kantin dari kelasku lumayan jauh. Ketika aku berjalan dideretan kelas delapan A sampai C, pandangan sinis dan jijik terpancar dari mereka yang sedang asik bercengkrama di depan kelasnya. Aku hanya bisa tertunduk setelah melihat ekspresi itu. Kapan ada penolongmu Ya Allah yang turun dan menjelaskan kepada mereka bahwa aku juga mahluk-Mu yang ingin di perlakukan sama dengan yang lain. Bukan di asingkan seperti ini. Dengan suasana yang seperti ini, aku seakan ingin menghilang dari hadapan mereka secara ajaib.

Kantin yang kutuju pun sudah didepan mata. Aku masuk kantin dan lagi-lagi semua orang yang ada di dalam kantin menujukan pandangan mereka padaku. Ingin menangis rasanya. Mimik wajah mereka yang seakan tak ingin kehadiranku, membuatku ingin berlari jauh dari tempatku berada. Ingin rasanya kurebahkan badanku pada ibu dan menceritakan semua ini. Namun tak mungkin rasanya aku bercerita pada ibu. Mungkin akan menambah beban pada disisi lain ibu. Aku bangun dari khayalan semu ini. “Bu pisang goreng dua, ini” sambil memegang pisang goreng yang ku maksud, aku membayar pada bu ifa, penjaga kantin. Setelah membayar aku langsung keluar dari area kantin. Sesampainya di depan kelas aku dihadang untuk masuk oleh Ina dan Riska. Mereka tak mengeluarkan kata sedikitpun ketika menghadangku. Hanya tersenyum sinis dan langsung membiarkan aku masuk ke dalam kelas.

Saat aku masuk ke dalam kelas, beberapa penghuni kelas tampak sedang berdiskusi di deretan bangku kanan. Kedengarannya sedang berdiskusi serius. Mataku kuarahkan kembali ke tujuanku, yakni bangku pengasingan. Ku buka kantong kresek yang berisikan pisang goreng tadi. Satu persatu ku makan. Tiba-tiba Zainur menggebrak mejaku. “Kon yo seng njokok duwekku nang tas?” (kamu yang ambil uangku di tas?) Dengan nada menyentak Zainur menampakkan wajahnya yang sedang marah mendidih. Aku membangkitkan kepalaku dan ku letakkan pisang goreng yang hampir saja masuk ke mulutku lalu meresponnya “Ha? Nggak nur.”. “Halah ngakuo wes! Aku ikhlas! Seng penting ngakuo!” (halah mangakulah! Aku Ikhlas! Yang penting kamu mengaku!) ia terus mengejar agar aku mengaku bahwa aku yang mengambil uangnya. “Masyallah, nggak nur! Demi Allah !” Aku mencoba meyakinkannya. Dari belakangku ada yang menarik kerudung yang ku kenakan sambil mengancam. “Heh, ngakuo! Kerundungan tapi nyolongan!” (heh, mengakulah! Mengenakan kerudung tapi pencuri!). Ternyata Ona yang menarik kerudungku. Serentak semua yang berdiskusi tadi di deratan bangku kanan menghampiriku. Semua menuntutku mengaku. Tanganku dipegang kanan dan kiri. Aku diadili lebih dari lima orang seingatku. Aku dicekoki bully-an yang mereka lontarkan. Air mataku menetes. “Aku nggak ngambil uangmu Nur! Dan aku nggak tahu kemana uang itu! Aku tadi ke kantin.” Dengan tangis aku menjelaskan pada mereka berharap semua berakhir. Namun ini tak mempan bagi mereka. Tas ku di geledah. Buku, pulpen, pensil dikeluarkan semua dengan brutal oleh mereka. “Sudah, sudah. Sumpah aku nggak ngambil. Jangan! Pelan-pelan, bukuku tinggal ini dan ini tas ku satu-satunya” mohonku pada mereka. Tak ada gunanya aku menangis seperti ini. Mereka masih saja menjadikanku objek bully-annya. Aku pasrah dengan semua perilaku mereka. Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, mereka baru meninggalkanku dengan keadaan yang bagiku sangat tak pantas. Buku, peralatan menulis milikku berceceran di lantai. Dengan mengusap air mata, aku membereskan semuanya.

Entah hingga kapan ini semua berakhir. Kadang bayangan hitam memenuhi kepalaku. Apa selamanya aku akan hidup seperti ini ? Tak punya teman, sahabat dan akan terus dibully? Hanya mengalirkan doa bagi mereka yang saat ini belum sadar akan rasanya dibully. Semoga suatu saat mereka akan paham dan tak akan melakukannya lagi. Aku rasa aku bahagia dengan ibu dan Allah yang selalu ku punya. Akan ku jalani hidup ini dengan berusaha menjadi hamba terbaik di matanya. Tak perlu rasanya aku membalas mereka. Biar Allah yang membalas kebaikan bagi mereka kelak. Aamiin.

 [Catatan Penulis : Cerita ini terinspirasi dari true story. Oktavia (Nama asli) adalah teman sekalasku yang di bully di kelas. Ia memang nyata duduk sendiri dan diasingkan oleh teman-teman sekelasnya. Semoga dengan cerita ini, kita dapat tergugah untuk STOP BULLYING! Rasulullah mengajarkan kita untuk saling menyayangi dan menghormati sesama manusia. Jazakallah]

4 Komentar

  1. Avatar

    Min, mau tanya.
    Sy kmrn ikut lomba Gocapan 2. Lha nggak menang 😀
    Tapi katanya kmrn semua kontributor dapat reward buku tulis.
    Pertanyaannya. Apa buku tulis itu di kirim ke alamat masing2 ? 🙂 Thx Min 😀

  2. Avatar

    Iya benar Min 😀 hehe oke deh 🙂

  3. Avatar

    sedih banget ceritanya 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.