Satu Rindu

Tanpa anting, cincin dan kalung ibuku cantik alami apa adanya. Anggun dan penyayang sangat lekat pada pribadi ibu. Tak pernah sedikit pun ia mengeluh tentang apa yang memberatkan harinya di telingaku. Yang aku tahu, ibu selalu tersenyum dan bahagia. Tangan lembutnya selalu mengingatkan aku dan adik di kala kami salah.

Sumber gambar : www.dakwatuna.com

Mengelus, membelai dan tak jarang dengan memeluk. Aku rasakan ketenangan tiada tara ketika ibu berada di sampingku.
Hari ini aku sedang menimba ilmu di sebuah Pondok Pesantren. Itu pun juga karena pengertian ibu atas apa yang aku inginkan. Jadi, setalah lulus UN (Ujian Nasional) SMP tahun 2012, aku mendapatkan cobaan. Nilai UN-ku di peringkat terendah ke dua. Hampir saja aku tidak lulus. Ini gara-gara aku yang sangat malas dan acuh ketika di ingatkan ibu untuk belajar. Tak jarang aku membentak ibu dengan berargumen “Aku punya cara belajar sendiri!”, padahal itu hanya bersifat mengelak. Aku baru merasakan perihnya ketika berada di akhir. Saat pengumuman hasil UN, aku pulang dengan wajah kecewa. Saat itu ibu menungguku di depan pintu rumah. Masih menggunakan daster dan kerudung yang lebar. Ia tersenyum ketika aku nampak di ujung gang rumah. Senyuman itu luar biasa. Bergetar hebat seluruh jiwa ini. Aku takut senyum itu akan menjadi rengutan. “Alhamdulillah wes pulang. Ayo masuk maem dulu” (Alhamdulillah sudah pulang. Ayo masuk makan dulu) sambut ibu dengan membelai kepalaku seraya aku mencium tangannya. “Iya Bu” aku merespon dengan datar dan takut yang hebat. Ia mengambilkan aku sepiring nasi dan lauk pauk kesukaanku, ayam goreng. Kemudian tak lantas di berikan padaku sepiring nasi itu, melainkan ia duduk di sebelahku dan sesendok nasi hadir di depan mulutku, ia menyuapiku. “Ayo buka mulutnya” perintah ibu dengan lembut. Aku membuka mulut dan mengizinkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya masuk ke mulutku. Seusai makan beliau meletakkan piring di meja makan, kemudian mengembalikan fokusnya kepada ku. Kesempatan ini tak ku sia-siakan. “Bu maaf, hasil UN-ku mengecewakan” Dengan mata berkaca-kaca aku berkata. Ibu memeluk dengan hangat kemudian, “Ibu sudah tahu, kamu diurutan kedua terendah di sekolah. Ibu di telephone Pak Junaidi tadi. Nggak papa Le, kita ambil hikmahnya ya” hibur ibu. Ibu melepas pelukannya, lalu mengambil kedua tanganku seraya berkata “Sudah le, jangan kecewa. Ayo bangun! Sekarang kamu mau kemana ? Ibu dukung.” Hibur ibu lagi. “Aku pengen m….mondok Bu. Aaa..aku pengen memperbaiki a..aaakhlak dan agamaku.” Balasku dengan nada tersendat-sendat karena masih kecewa. Dengan semangat ibu mengatakan “Baik Le, ayo kita cari. Ibu dukung”. Hari itu juga aku dan ibu langsung mencari informasi tentang pondok.
Cobaan itulah yang akhirnya menggiringku untuk menuntut ilmu di pondok. Subhanallah, semakin aku mendekat dan mengenal Tuhanku, semakin tenang jiwaku. Aku banyak mengerti. Aku punya segunung salah pada ibu. Aku sering membantah, ngedumel dan mengelak. Dengan doa dan cintaku ini, aku selalu mendoakan dari pondok. Di setiap malam aku memohon pada-Nya untuk diampuni segala salah dan dosanya. Sungguh aku sangat menyayanginya. Tiada tara bila aku membalas dengan isi dunia. Hanya menjadi anak soleh aku mengembangkan senyum hati ibu. Berwujud inilah satu rinduku untuk Ibu. Ibu, engkaulah surgaku.
Paciran, 5 Desember 2014
*Ku persembahkan ini untuk ibuku yang sungguh sangat ku sayangi. Semoga Rahmat Allah tercurah padamu bu. –Raja Kecilmu yang sedang belajar di Paciran – Lamongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.