Princes Prilly

princes

            Dia Prilly. Gadis kecil kelas 1 SD international “KARTIKA”. Putih kulitnya, mata agak sipit dan lesung pipit berada di pipinya yang agak gembil. Rambutnya indah berombak. Prilly tampak seperti putri raja. Semua mengakui kalau Prilly memang cantik dan pantas menjadi putri apalagi dia putri konglomerat terkenal di kota Bogor. Dunia Prilly adalah dunia yang tak pernah terlihat susah, semua apa yang dibutuhkannya sudah bisa terpenuhi. Justru sangat berlebihan bila dilihat anak seumuran Prilly menggunakan barang-barang mewah. Tapi itulah Prilly dengan dunia yang memanjakannya. Tapi ternyata kemewahan yang diberikan pada gadis sekecil Prilly menyebabkan sifat Prilly menjadi manja dan egois. Tapi orang tua Prilly tak pernah peduli dengan sifat manja dan egois dari putrinya. Mereka hanya ingin menyenangkan putrinya. Apalagi Prilly adalah anak yang memang dinantikan selama 10 tahun, baru mamanya bisa memperoleh Prilly. Mamanya tetap memanjakan Prilly apapun resikonya. Prilly adalah buah hati yang sudah dinantikan begitu lama, dia tak pernah menyesal begitu memanjakan Prilly, termasuk sifat Prilly yang egois dan manja.

 

Prilly melihat tempat bermainnnya di suatu ruang yang luas. Sudah banyak boneka barby yang dia miliki. Bahkan banyak yang diperoleh Prilly dari luar negeri. Begitu juga boneka bentuk hewan terutama boneka beruang yang amat disukai Prilly. Boneka-boneka Prilly tersusun rapi di suatu ruangan yang luas di dalam rumahnya.

“Mam, aku ingin barby lagi yang pakiannya seperti Petra Arini,” pinta Prilly pada mamanya.Sinta tersenyum dan mencium pipi anaknya, dia tentu akan mengabulkan permintaan anaknya. Tapi saat dia pergi ke toko yang terkenal di kota Bogor , ternyata boneka barby seperti Petra Arini tak ada.

“Memang sudah habis. Kalau habis, kapan ada lagi?” Pramuniaga itu mengatakan kalau boneka barby Petra Arini tak dijual di toko tapi hanya untuk kalangan terbatas.

“Siapa sih Petra Arini itu?” tanya Sinta.

“Penyanyi yang lagi naik daun. Asalnya juga dari Bogor,”tukas pramuniaga itu. Pramuniaga itu juga mengatakan kalau boneka barby yang tema Petra Arini hanya dijual khusus untuk oramg tertentu saja dan langsung dibeli pada Petra Arini.. Sinta agak panas hati karena dia merasa dirinya juga termasuk orang yang diperhitungkan di kota Bogor. Siapa yang tidak kenal dengan Pak Sumitro konglomerat terkaya di kota Bogor. Sinta bermaksud mendatangi sendiri Petra Arini.

 

Sinta agak kesal, saat dia mendatangi rumah Petra Arini. Kalau tak memikirkan rengekan anaknya, tentu dia tak mau datang ke rumah penyanyi ini. Hampir tiga jam dia menunggu di depan rumahnya tapi sampai saat ini belum ada tanda-randa dia dipanggil ke dalam.

“Mas, kapan Petra Arini keluar. Sudah lama aku menunggu di sini?” tanya Sinta agak kesal.

“Sabar bu, yang lain juga sabar ,” seru satpam yang menjaga di pintu masuk ke rumah Petra Arini. Sinta sungguh sudah tak tahan lagi, dia sudah kehilangan kesabaran. Kalau saja tadi pagi Prilly tak menangis, dia tak mau datang kemari. Demi anaknya Sinta datang kemari. Petra Arini keluar dengan anggun. Dengan kacamata hitam, wajah yang putih langsat . senyum terkembang lebar.

“Maaf, sudah menunggu lama. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kebetulan boneka barby ini terbatas dan sudah dibeli waktu launching lagu terbaruku. Sekarang hanya tinggal satu buah.” Sinta bangun dari duduknya dan secepat kilat dia mengambil barby yang ada di tangan Petra Arini. Petra Arini terkejut melihat tingkah laku Sinta.

“Maaf bu, yang datang kemari bukan ibu saja. Ini mau aku undi,” tukas Petra Arini.

“Kamu gak tahu siapa suamiku? Dia Sumitro konglomerat kota ini. Aku rasa kamu pasti akan memberikan barby itu padaku. Aku pasti akan membayar mahal untuk barby ini,”tukas Sinta dengan nada marah. Untunglah tamu yang lain mengangguk setuju barby itu diberikan Sinta, mereka tak mau ribut dengan orang kaya seperti Sinta. Sinta tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin Prilly akan senang dia mendapatkan barby terbaru.

 

Dugaan Sinta benar. Prilly begitu gembira mendapatkan barby terbarunya apalagi barby ini tak dijual di toko.

“Terimakasih mama. Teman-teman Prilly pasti gak ada yang punya seperti ini,”tukasnya sambil memeluk barbynya. Prilly membawa barbynya ke dalam ruang bermainnya. Prilly menaruh barby terbarunya di samping barby-barby lainnya. Prilly memandang barby terbarunya dengan perasaan senang. Begitulah Prilly akan gembira saat mendapatkan boneka barby baru, tapi tak lama kemdiaan Prilly akan mengacuhkan kembali barby-barbynya , hanya sebagai pajangan di ruang bermainnya.

 

Prilly mulai menguap setelah memajang barby terbarunya di lemari kacanya. Prilly menuju sofa yang ada di dekat lemari kaca. Prilly terduduk dan merebahkan tubuhnya dan matanya mulai tertutup. Tiba-tiba dia kaget karena barby-barbynya mulai berjalan ke arahnya. Mereka tampak marah dan berteriak-teriak padanya. Prilly bangun dari tidurnya dan tak menyangka , barby-barby itu membawa pentungan .

“Kalian mau apa??? Mengapa kalian marah padaku?”

“Kamu sudah mengacuhkan kami. Kami tak terima. Mengapa kamu beli kami tapi kamu tak pernah bermain dengan kami,”tukas salah satu barby. Barby Petra Arini tampak lebih marah lagi.

“Tahu begini aku tak mau dibeli ibumu. Waktu itu ada orang lain yang ingin membeliku,”tukasnya marah. Kemarahan barby memuncak dan mereka mulai menyerang ke arah Prilyy. Prilly berteriak kesakitan karena dipukuli para barby.

“Jadi aku harus bagainmana?” tanya Prilly

“Tapi kamu harus berjanji pada kami, kamu mau melakukan keinginan kami.” Prilly mengangguk setuju. Barby ingin Prilly menyumbangkan boneka-boneka miliknya ke panti asuhan. Prilly tidak mau, mereka miliknya, mengapa dia harus memberikan pada orang lain, apalagi buat anak-anak di panti asuhan. Barby -barby itu kembali menyerang Prilly. Prilly mulai berteriak-teriak keras

“Ampun….ampun……ampun.”teriak Prilly. Sinta membangunkan anaknya .

“Ada apa Prilly? Mengapa kamu menjerti-jerit?” Prilly terengah-engah . Prilly melihat barbynya masih tersusun rapi di lemarinya. Padahal dia tadi melihat barby-barbynya menyerang dirinya. Wajah Prilly pucat pasi. Prilly melihat wajah mamanya. Prilly menceritakan kejadian yang baru saja dia alami.

“Itu hanya mimpi saja . Sudah tak perlu kamu pikirkan,”tukas mamanya.

 

Ternyata mimpi yang sama selalu mendatangi malam-malam Prilly. Semua itu membuat Prilly menjadi kurang tidur. Tubuh Prilly semakin melemah . Tubuhnya menjadi kurus karena kurang tidur. Saat Prilly dibawa ke dokter, doketrnya mengatakan tak ada penyakit pada Prilly hanya gejala kejiwaan saja. Prilly tetap mengalami mimpi-mimpi buruk tentang boneka barbynya. Akhirnya Sinta memutuskan untuk mengabulkan permintaan barby-barbynya yang ada dalam mimpi Prilly. Prilly beserta mamanya mengunjungi sebuah panti asuhan di Bogor. Mereka membawa semua boneka barby ke panti asuhan. Prilly sendiri yang membagi-bagikan barby miliknya pada anak-anak di sana. Tampak sekali anak-anak itu gembira memdapatkan barby yang begitu mahal. Mereka sebelumnya tak pernah memiliki barby.

“Terimakasih Prilly,”tukas salah satu anak dan mncium pipi Prilly. Hampir semua anak-anak berterimakasih padanya. Semua bergembira. Entah mengapa hati Prilly ikut gembira, belum pernah dia merasakan rasa yang sekarang dia rasakan. Bahagia melihat orang lain gembira karena pemberiannya. Mungkin begini rasanya kalau kita mau berbagi dengan orang lain. Rasa bahagia, pikir Prillly. Prilly begitu bahagia bersama dengan anak-anak panti. Prilly merasakan kalau dia banyak dibutuhkan oleh anak-anak di panti. Prilly juga akhirnya tahu kalau masih banyak anak-anak yang tak memiliki uang untuk membeli permainan.

 

Semenjak itu Prilly menjadi anak yang dermawan. Prilly banyak bermain dengan anak-anak panti. Kini dia sadar, karena ternyata banyak anak yang tak seberuntung dirinya. Prilly menjadi anak yang rendah hati dan suka menolong. Prilly tak pernah manja lagi semenjak mimpi yang menakutkan itu . Kini tak ada lagi Prilly yang sombong, Prilly yang manja dan egois.Kini Prilly lebih pantas menjadi putri yang sesungguhnya.

Sumber gambar : http://cliparts.co/cartoon-princess-pictures

2 Komentar

  1. Avatar

    Sudah pernah coba dikirim ke majalah? Siapa tahu dimuat

    • Avatar
      Hastira Soekardi

      sudah ada beberapa yang dikirim. tapi belum nyantol , he, he. Tapi untuk cerita anak aku sudah punya buku solo walau hanya penerbit indie

Tinggalkan Balasan ke Misfah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.