Ela Forever

kasih tak sampai

Sore itu rumah kembali seperti kebun binatang, sumpah serapah nyak dan babe belum lagi si cerewet Tika yang kerjaanya hanya ngomel saja. Kalau gak ya dandan di cermin.Apalagi sekarang Tika lagi naksir berat sama Dede anak kampung sebelah. Rasanya ini telinga bakal rusak kalau setiap hari harus direcokin suara-suara sumpah serapah yang gak tahu juntrungannya. Aku beranjak dari kasur bututku .

“Hei, Doni, mau kemana lagi kamu , nongkrong. Cari kerjaan, kerjaannya cuma nongkrong saja, sekali-kali kek kamu tuh kasih duit buat nyak dari hasil keringat kamu,”nyinyir nyak mulai kambuh. Aku bergegas keluar. Tempat aku yang paling nyaman ya, tempat tongkrongan di jalan dekat warungnya mpok Siti. Di situlah aku bisa menghilangkan sejenak kekesalan hati tentang keluargaku yang satu sama lain tak pernah akur. Rumah yang bagiku seperti neraka. Rumah di pinggir sungai Ciliwung yang kalau musim hujan baunya minta ampun, tapi itulah rumah yang bisa dibeli sama nyak dan babe.

“Eh,bagi rokoknya dong,” tukas Japri. Ku sodorkan sebatang rokok padanya dan mengambil gitar yang tersender di tembok. Aku mulai memainkan sebuah lagu. Aku melihat Ela sedang berjalan menuju mesjid di depan jalan menuju kampungku. Entah mengapa aku mulai tertarik dengan Ela. Tampak dari luar kelembutan dan matanya yang meneduhkan hati membuatku selalu terkesima melihatnya. Biasanya aku selalu menggoda cewek-cewek yang lewat di depan warung mpok Siti tapi kalau Ela lewat aku hanya bisa terdiam saja. Untuk menyapanya saja aku tak punya keberanian. Japri menyenggol sikutku, aku menoleh. Tampak Ela dengan kerudung hijau lumut sedang membawa Al Quran di pelukannya .

“Tuh gebeten elu,”tukas Japri. Yang ada aku hanya bisa memalingkan muka tapi tetap saja aku melihatnya dari sudut mataku.

“Alah elu cemen ,” tukas Samin. Aku hanya mengangkat bahuku. Bagaimana aku berani, dia anak ustad kampung sebelah, mana dia mau punya mantu seperti aku. Pengangguran dan menurut orang sih aku tukang palak. Apa lagi ya sebutan untuk diriku, yang pasti semua yang jelek ada pada diriku. Sampai-sampai aku sendiri gak tahu apa dalam diriku ada sisi baikknya atau tikdak. Entahlah!!!!!

“Lihat dulu, dia anak ustad, mana mau pak ustad punya mantu kaya gue,”celetukku kesal dengan ejekan Samin.

“Ya, yang penting kan anaknya dulu. Urusan orang tua sih gampang. Kalau anaknya sudah mau sih gampang .” Japri mencibir ke arahku. Benar juga ya, apa yang dikatakan Japri. Aku juga gak jelek-jelek amat. Kata orang sih tampangku lumayan.

“Benar elu Jap, apalagi tampang gue kan lumayan ganteng.”

“Lumayan jelek tahu,”cibir Samin.

“Sialan !” Aku tertawa mendengar jawaban Samin, tapi di sinilah aku seperti mendapat teman yang senasib yang tak pernah dianggap sebelah mata, dan aku mendapatkan teman sejati yang mau mendengarkan keluhan , menghibur dalam suka dan duka. Inilah tempatku yang paling nyaman.

 

 

Untuk mengejar misiku untuk mendapatkan Ela, aku rajin duduk dekat warungnya mpok Siti untuk menunggu Ela pergi ke mesjid. Saat aku lihat dia sudah kembali dari mesjid, aku hampiri dia .

“Hai, baru pulang dari mesjid ya? Aku Doni,”tukasku.

“Sudah tahu kok. Ela,” sapanya kembali. Ah, dia tahu namaku. Apa karena aku tampan atau karena aku preman kampung . Ah, bodo amat yang penting Ela ada sedikit perhatian.

“Boleh main dan ngobrol sama kamu gak?” Duh, ini kenapa tubuhku kok gemetar semua, malah ingin rasanya cepat-cepat ke toilet.

“Main saja di mesjid, sambil belajar agama.” Ela menyuruhku datang ke mesjid setiap sore untuk belajar agama di sana. Aku membelalakan mataku. Gak salah??? Ela mengangguk dan aduh senyumnya sungguh membuatku mabuk kepayang. Tak apalah kalau itu kemauan Ela, akan kau turuti. Teman-teman nongkrongku semua membelalakan matanya melihat penampilan aku sore itu. Pakai peci dan baju koko.

“Gak salah lihat gue?” Samin mencibir . Sungguh jelek Samin dengan bibirnya yang mencibir . Apa boleh buat demi cinta sama Ela, aku harus berubah, paling tidak dari penampilan dulu. Aku harus melepaskan jeans lusuh yang bolong dan kaus tanpa lengan.

“Bagus kan. Gue sudah ada tampang jadi ustad belum?”

“ Ustad kepala elu. Elu sih mana pantas jadi ustad, tapi preman pakai baju ustad. Nah, ini baru cocok,”Japri dan Samin tertawa keras tak henti-hentinya mentertawakan aku. Sialan, aku tak bisa berkutik. Benar kata orang kalau cinta itu bisa merubah orang. Rasanya aneh harus duduk di mesjid mendengarkan kotbah dan diikuti dengan belajar ngaji. Astaga ,aku serasa orang yang paling bodoh di mesjid. Anak-anak kecil saja sudah pandai mengaji. Sedangkan aku???? Baca huruf Arab saja masih gak bisa. Tobat, malu sekali!!!!!

“Kamu gak pernah belajar mengaji?” tanya Ela saat pulang dari mesjid. Aku menggelengkan kepala dan tertunduk malu sekali. Apalagi Ela bercerita kalau dia memimpikan punya suami kelak yang bisa menjadi imam bagi dirinya, pandai agamanya.Aku tercenung mendengarnya. Artinya aku bukan pria yang diharapkannya.

 

 

“Apa!!!!”teriak Japri. Aku menutup mulutnya. Sungguh malu semua orang menolehkan wajah mereka ke arah sini. Japri dan Samin menatapku tak percaya.

“Elu sungguh-sungguh. Gak gampang loh, elu harus menuruti banyak aturan,sedangkan elu kan terbiasa seenaknya,” tukas Samin melotot tak percaya. Aku menganggukan kepalaku mantap. Semua ini sudah aku pikirkan matang-matang. Cinta bisa merubah segalanya. Aku pastikan setelah aku akan mesantren di Bogor, aku akan melamar Ela pada ayahnya. Nyak dan babe tak percaya dengan niatku tapi aku meyakinkan mereka kalau nanti pulang dari pesantren aku akna hidup lebih baik dari sekarang. Nyak menatapku tajam. Tapi mendengar anaknya berjanji akan menjadi anak baik-baik, akhirnya nyak menyetujui keinginanku.

“Gue sungguh-sungguh bro. Titip Ela dulu ya. Kalau ada pria lain yang mendekati Ela, kalian harus bisa menjauhkannya.” Samin dan Japri masih belum percaya dengan niatku . Biarlah. Aku meninggalkan mereka yang masih terpaku di tempatnya. Aku membalikan tubuhku, masih kulihat mereka bengong dan menatapku tak pecaya. Aku senyum simpul sendiri. Sesudah pulang dari mesjid sore itu, aku menyatakan niat untuk belajar di pesantren pada Ela.

“Aku mau kamu menungg ku, Ela. Kalau aku sudah selesai belajar di pesantren aku akan melamar pada ayahmu. Aku janji.” Aku menatapnya lembut. Ada binar di bola matanya. Seperti bintang yang berkerlip walau kecil tapi itu sudah memberikan isyarat padaku.

“Baiklah aku akan menunggumu.”

Ternyata benar adanya tak mudah, aku harus mengikuti aturan yang ada di pesantern. Selama ini aku terbiasa hidup sesukanya kini aku harus hidup teratur. Berkali-kali aku harus dibangunkan dengan siraman air dan hukuman membersihakn kamar mandi karena melanggar tata tertib. Belum seringnya aku dipanggil pimpinan pondok karena sering bertengkar dengan sesama santri. Entahlah apa mereka semua kuat menghadapiku. Ingin sih mereka menyerah dan memulangkan aku. Pernah aku ingin menyerah , tapi bayang-bayang Ela yang lembut membuatku urung untuk pulang. Rasanya beban terberat dalam hidupku adalah berbuat baik. Sungguh sulit untuk menjadi baik.

“Preman ya tetap preman, mana ada preman masuk pesantren,”ejek Koko. Entah mengapa aku habis kesabaran dengan santri yang namanya Koko, tak pernah seharipun berhenti mengejek.

“Apa kau bilang?” Aku menonjok batang hidung Koko sampai berdarah-darah . Alhasil untuk kesekian kalinya aku dipanggil ustad Arif.

“Tapi dia yang duluan. Hampir selalu mengejekku. Semua itu ada batas kesabarannya,”elakku memberi alasan. Ceramah hampir satu jam lebih dari ustad Arif dan aku diisolasi di tempat khusus membuatku banyak merenung. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengendalikan emosiku. Mulai belajar santun dalam perbuatan dan perkataan. Sampai aku sendiri merasa heran dengan banyak perubahan yang terjadi pada diriku.

“Kamu sudah banyak belajar di pesantren ini dan sudah banyak perubahan yang terjadi. Tapi ingat niat kamu belajar agama itu hanya karena Allah, bukan karean suka dengan wanita,” tukas ustad Arif . Aku terperangah, darimana dia tahu niatan awal aku belajar di pesantren karena ingin melamar Ela?????. Ustad Arif tersenyum.

“Tak perlu kau bertanya aku tahu darimana.Tetaplah istiqomah di jalan Allah. Kamu sudah boleh kembali ke rumah.” Rumah. Kalimat itu membuatku bahagia, aku bakal bertemu kembali dengan Ela. Tapi di sisi lain aku merasa berat meninggalkan tempat yang menempa diriku menjadi pribadi yang lebih baik. Setahun bukan waktu yang singkat untuk memendam rindu pada Ela.

 

Rumah. Masih seperti dulu, ribut dengan teriakan nyak dan babe tapi itu yang membuatku rindu untuk selalu bersama mereka. Nyak terlihat gembira dengan perubahan diriku.Apalagi aku mendapat tawaran untuk mengajar mengaji anak-anak di mesjid depan gang. Satu lagi yang aku harus dapatkan pekerjaan tetap. Aku tak akan memilih-milih pekerjaan yang penting halal.

“Wih, nyak bangga punya anak elu Don. Mudah-mudahan jadi contoh buat adik-adik elu.” Aku mencium tangannya. Nyak masih saja terbengong-bengong saat aku cium tangannya.

Sore itu aku datangi tempat biasa Samin dan Japri nongkrong. Aku melihat mereka melambai ke arahku.

“Wah, Don ,ustad di kampung kita,”tukas Samin .

“Masih mau nongkrong di sini?” Aku menganggukan kepala dan mereka terbelalak kaget.

“Aku bakal nongkrong di sini, tapi gue akan mengajar ngaji buat elu-elu dan orang-orang di sekitar sini.” Aku tertawa melihat tampang mereka berdua yang melongo. Aku beranjak dari hadapan mereka.

“Mau kemana?” “Ela”. Aku menatap keduanya dengan tatapan heran melihat mulut mereka tiba-tiba saja seperti akan kehabisan nafas. Aku menelusuri jalan kampung sampai depan rumah Ela. Debar jantungku mulai tak karuan. Lebih kaget jantungku seperti berhenti sekian detik saat aku tahu Ela sudah meninggal dua bulan yang lalu karena kecelakaan. Tubuhku lunglai dan nafasku sesak menahan rindu yang sudah kupendam, tapi aku berhadapan dengan kenyataan . Kenyatan Ela sudah tiada. Sungguh penantian panjang yang berakhir tragis.

“Ela, aku datang untukmu. Aku sudah berubah agar aku bisa bersanding denganmu, tapi takdir berkata lain. Selamat jalan Ela. “Aku menaburkan kembang dipusaranya. Tetes demi tetes air mataku jatuh . Kubiarkan air mataku turun untuk menghapus sedikit pilu yang kurasakan.Aku masih terpekur lama dalam diam yang panjang. Bayang-bayang Ela sekelebat menari-nari dalam angan-angan tapi semuanya lenyap bak angin . Hanya sunyi yang menemaniku saat ini. Sepi!!!!!!

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.