Pengalaman: Konser Musik

92974915

Saya memiliki sebuah pengalaman bernyanyi dalam sebuah paduan suara yang tampil di sebuah konser musik sekolah. Konser musik ini diadakan di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot pada tanggal 22 Mei 2015 yang lalu pada pukul 17.00- 19.00.

Sebelum tergabung sebagai anggota paduan suara konser ini, saya mengambil kelas vokal sebagai salah satu mata pelajaran seni pilihan. Murid dapat memilih antara kelas vokal, biola, gitar, keyboard, maupun seni menggambar. Kemudian saya dipilih menjadi salah satu anggota paduan suara di konser yang bertema Grace Alone ini.

Latihan dimulai setiap minggu sepulang sekolah sejak beberapa bulan sebelumnya. Saya sangat menikmati latihan- latihan tersebut, walaupun latihan tersebut cukup melelahkan sehingga berdampak pada efektivitas belajar saya untuk ulangan pada hari setelah latihan. Beberapa siswa dan guru yang tergabung dalam latihan ini akhirnya memutuskan untuk tidak bergabung lagi dengan paduan suara ini, karena mereka harus melakukan kegiatan lain yang kebetulan memiliki jadwal yang sama dengan jadwal latihan ini. Kami kehilangan cukup banyak anggota, bahkan kami hanya memiliki 3 penyanyi bas. Namun latihan tetap dijalankan, dan untungnya latihan tetap dapat berjalan dengan lancar.

Kami berlatih untuk menyanyikan empat buah lagu, yaitu Soleram, Look at the World, Face the Cross, dan Ride the Chariot. Keempat lagu ini memiliki ciri khas yang berbeda- beda. Lagu Soleram kami nyanyikan dengan semacam efek gema. Kami diatur untuk berdiri secara berpencar agar suara dapat tergabung dengan baik. Lagu Look at the World adalah lagu ceria yang menceritakan tentang keindahan dunia. Menurut saya lagu ini paling mudah dinyanyikan dari ketiga lagu lainnya.

Face the Cross merupakan lagu yang emosional. Kami awalnya kesulitan untuk menyanyikan lagu ini karena temponya berubah- ubah, namun akhirnya kami dapat menguasai lagu ini dengan baik. Lagu terakhir kami, Ride the Chariot adalah lagu yang dinyanyikan oleh orang Negro. Lagu ini tidak memakai iringan piano, dan dinyanyikan dengan sangat semangat. Lagu ini diiringi oleh seorang soloist yang adalah alumni sekolah ini. Ia tergabung dalam sebuah paduan suara di Bandung, dan sudah mengikuti berbagai macam perlombaan menyanyi, sehingga keindahan suaranya tidak patut dipertanyakan lagi.

Satu bulan sebelum konser, paduan suara kami diundang untuk bernyanyi di Gereja GKI Citra 1. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan kemampuan paduan suara kami sebelum konser yang sesungguhnya. Kami berkumpul satu jam sebelum ibadah dimulai untuk berlatih terlebih dahulu. Awalnya saya kurang percaya diri karena persiapan kami kurang matang, namun belakangan saya tahu bahwa jemaat menyukai performa kami. Mereka bertepuk tangan, padahal biasanya tidak ada tepuk tangan pada saat penampilan pujian.

Gladi resik diadakan dua hari sebelum konser. Kami tersisa dengan 22 orang anggota. Pelatih vokal kami, Mr. Agus, berusaha keras untuk melatih kami lebih baik lagi agar dapat tampil maksimal. Sambil menunggu giliran tampil, kami melihat penampilan dari biola, piano solo, gitar, keroncong, kolaborasi drum dengan keyboard, paduan suara SD, dan lain- lain. Saya rasa semua orang telah mengusahakan yang terbaik agar konser ini dapat terlaksana dengan baik. Tak hanya para pemain musik, namun juga kru panggung yang bertugas mengatur alat musik di panggung, kru lightning, pembawa acara, serta pihak- pihak lain di belakang layar.

Hari konserpun tiba. Kami melakukan gladiresik terakhir beberapa jam sebelum konser diadakan. Kami diperbolehkan untuk pulang untuk bersiap- siap terlebih dahulu pada jam 12.30, dan berkumpul lagi disekolah pada jam 15.30. Namun saya harus berlomba dengan waktu. Saya harus mengikuti susulan ulangan Mandarin sepulang sekolah, karena seharusnya ulangan ini dilakukan pada saat jam gladiresik. Saya mengerjakan ulangan secepat mungkin agar saya bisa segera pulang ke rumah. Untunglah saya bisa sampai di rumah dengan cepat dan kembali lagi ke sekolah tepat waktu.

Para anggota diharuskan untuk memakai kemeja hitam lengan panjang, celana bahan, serta sepatu pantofel untuk pria, dan sepatu hitam berhak sekitar 3 cm untuk wanita. Saya tidak memiliki sepatu semacam itu, sehingga saya meminjam sepatu milik wali kelas saya. Namun, ternyata sepatu tersebut ukurannya terlalu besar. Saya telah mencoba memasukkan banyak tissue sebagai pengganjal, namun sepatu tersebut tetap terlalu besar. Awalnya saya kira saya masih bisa berjalan. Namun ternyata saya tidak bisa berjalan dengan benar karena sepatu tersebut terus terlepas, dan kaki saya terasa sakit. Saya sempat panik karena latihan akan segera dimulai, namun untunglah saya dapat meminjam sepatu dengan ukuran yang lebih kecil dari seorang guru lain yang kebetulan sedang lewat.

Tak lama setelah latihan terakhir, konserpun dimulai. Ada sekitar 400 penonton yang datang pada saat itu. Paduan suara kami menyanyikan lagu Soleram sebagai penampilan pembuka. Selama menunggu jadwal tampil berikutnya, kami semua menunggu dibelakang panggung. Dibelakang panggung tersedia layar LCD yang menampilkan penampilan diatas panggung, sehingga kami dapat melihat konser secara langsung. Kami juga sempat melahap makan malam yang diberikan oleh panitia konsumsi.

Tak terasa, konserpun telah selesai. Kami tak sempat mengadakan evaluasi karena kebanyakan anggota telah pulang terlebih dahulu. Namun saya sempat berbincang sebentar dengan Mr. Agus, pelatih kami. Tampaknya ia senang dan puas dengan apa yang telah kami tampilkan.

Saya sangat senang bisa tergabung dalam paduan suara untuk konser musik kali ini. Walaupun jadwal latihannya kadang sedikit menggeser jadwal belajar saya, namun saya sangat menikmati saat- saat latihan dengan anggota paduan suara yang lain. Saya juga merasa bangga karena saya bisa menampilkan penampilan yang disukai oleh banyak orang. Saya harap paduan suara kami tetap dapat berlanjut dan menampilkan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. (HANA/28/05/15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.