Bukan Karena Aku Katro dan Enggak Gaul

smartchildTernyata tidak terasa aku sudah kelas 8 SMP. Sudah pasti senang hatiku tidak sabar menjadi remaja yang kata orang-orang sih asik banget, dan seru. Ngomong-ngomong aku juga sangat senang teknologi sekarang sudah semakin canggih. Aku bisa melihat dan mengetahui apapun yang aku suka hanya dengan komputerku. 14 tahun umurku. Meskipun umurku sudah lumayan mendekati remaja, terkadang rasa senang dihatiku berubah menjadi takut. Amat takut rasanya. Aku takut seperti mereka, aku takut seperti mereka yang mengecewakan semua orang yang menyayanginya, orang tua, adik, kakak, paman dan bibi, tetangga, bahkan bapak ibu guru.

Aku mengenal nama internet dari kakakku yang mencari tugas-tugasnya di internet. Saat itu aku berpikir bahwa internet merupakan sumber kebaikan dimana apapun yang kami ingin cari dan tanyakan ada disana, sumber kebaikan karena sangat menunjang ilmu yang ingin kami ketahui dengan mudah, bertukar informasi tentang pelajaran sekolah dan tugas dengan teman-teman tanpa harus bertemu hanya cukup dengan sosmed atau medsos. Itu yang aku ketahui dari kakakku waktu itu.

Sosmed atau bisa disebut juga dengan media sosial memang benar-benar media/sarana/jalan untuk bersosial dengan orang lain dengan mudah. Contohnya facebook, twitter, BBM, aplikasi-aplikasi android, dan lain-lain. Menurutku dampak baik maupun dampak buruk media sosial tidak bisa langsung mengatakan bahwa media sosial ini baik atau buruk dampaknya. Semoa dampak yang dihasilkan tergantung pemilik media sosial itu menggunakannya. Misalnya dampak baiknya memberikan informasi yang update, bertukar informasi dengan teman-teman sekolah lain, mengetahui info lomba, dan juga untuk hiburan.

Percaya atau enggak umurku yang 14 tahun ini aku masih yakin kalau sosial media hanya merugikanku. Aku tidak memiliki media sosial saat ini. Tapi aku harus memiliki email. Bukannya aku membenci dan memfitnah sosial media ini, namun aku amati orang-orang yang seperti apa yang memanfaatkan media sosialnya dann bagaimana teman-temanku menggunakan media sosial mereka. Kebanyakan teman-temanku menggunakan media sosial untuk hiburan. Konsentrasi belajar mereka terganggu karena aktivitas tersebut membuat mereka kecanduan. Mereka jarang belajar, bahkan tidak peernah karena waktu mereka habis digunakan untuk aktivitas utak-atik media sosial.

Mereka yang memiliki akun sosial media kebanyakan narsis. Narsis menurutku perbuatan yang tercela karena melakukan sesuatu ingin diketahui orang lain dan ingin dipuji di komentarnya.

Media sosial menjadi ajang mencari target pacar di sekolah lain atau bahkan kakak kelas dengan mencari info, kebiasaan dan kesukaan target/gebetan.

Tempatnya galau karena tudak ada target sekolah hanya mengikuti status orang yang dia stalking.

Rugi banget aturan uang yang orang tua kasih untuk menunjang kebutuhan sekolah buat beli paket internet yang berpuluh-puluh ribu.

Hasilnya, ketika sudah dapat pacar di media sosial pacaran luar biasa. Ketemuan, beli hadiah, so sweet. Orang tua kerja cari uang bukan buat beliin hadiah dan kasih makan anak orang ya.

Bodoh banget disekolah orang yang suka media sosial, kan enggak pernah belajar. Mau jadi tukang ojek besok? Waktu kecil pegangan hp keren dan gaul pakai media sosial. Pas sudah tua jadi tukang ojek. Ini sudah 2015, AFTA mulai dijalani kata kakakku. Kalau kita tidak pintar orang luar negeri akan menguasai kita dan kita menjadi pembantu mereka.

Aku tidak perduli sekarang dibilang katro atau enggak gaul karena enggak punya media sosial. Aku memilih tidak memiliki media sosial karena aku ingin terus belajar supaya pintar pelajaran, bukan pintar media sosial.

ilustrasi : bungyud11.wordpress.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.