Pelajaran di Sebuah Sirkus

dd 3Saat saya sedang asyik browsing di salah satu sosial media, saya menemukan kisah ini yang kisah aslinya diambil dari buku terkenal Chicken Soup For Soul, jadi bernostalgia saya dengan buku ini,, oya berikut kisahnya :

Pada suatu saat ketika saya masih berumur belasan tahun, ayah dan saya berdiri di antrian untuk membeli tiket pertunjukan sirkus. Akhirnya, hanya tinggal sebuah keluarga di antara kami dan counter tiket. Keluarga tersebut memberikan kesan yang sangat mendalam dalam diri saya. Keluarga itu mempunyai delapan anak, boleh jadi semuanya masih berumur dibawah 12 tahun. Anda bisa mengetahui kalau mereka tidak mempunyai banyak uang. Pakaian mereka tidak mahal, tetapi bersih. Anak-anaknya mempunyai sikap yang sangat baik, semuanya berdiri antri dengan tertib, dua-dua di belakang orang tua mereka, sambil bergandengan tangan. Mereka semua sangat antusias berbicara tentang badut-badut sirkus, gajah, dan hal-hal lain yang akan mereka lihat malam itu. Orang pasti merasa kalau mereka semua belum pernah melihat sirkus sebelumnya. Nampaknya malam itu akan menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan masa remaja mereka.

Sang ayah dan ibu berada di depan, berdiri dengan bangga. Sang ibu memegang tangan suaminya, menatapnya seolah mengatakan, ”Kau adalah ksatriaku dalam pakaian baja yang bersinar.” sang suami tersenyum dan penuh kebanggaan, menatapnya seolah-olah menjawab, ”Memang benar.”

Penjual tiket itu lalu mengatakan harga tiket yang harus di bayar. Istri lelaki tersebut melepaskan tangan suaminya, kepalanya terkulai, bibir lelaki itu nampak mulai gemetar. Sang ayah lalu mendekat sambil memiringkan tubuhnya dan berkata, ”Berapa?”

Kembali penjual tiket itu mengatakan harganya.
Uang lelaki itu tidak cukup untuk membayarnya.
Apa yang akan terjadi seandainya dia berbalik dan mengatakan kepada kedelapan anaknya bahwa dia tidak mempunyai cukup uang untuk membawa mereka melihat sirkus?

Mengetahui apa yang terjadi, ayah saya memasukkan tangan ke saku celananya, mengambil uang 20 dolar dan menjatuhkannya ke lantai. (Kami sama sekali tidak kaya!) Ayah saya membungkuk, mengambil uang tersebut, dan menepuk bahu lelaki itu dan menggatakan, ”Maaf, pak, uang ini jatuh dari saku Anda.”
Lelaki itu mengetahui maksud ayah saya. Jelas dia tidak ingin minta bantuan tetapi yang pasti dia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi yang putus asa, menyedihkan, dan juga memalukan.

Dia menatap mata ayah saya secara langsung, menyambut tangan ayah ke dalam kedua tangannya, menggenggam erat uang 20 dolar tersebut, dan dengan bibir gemetar dan air mata membasahi pipinya, dia menjawab, ”Terima kasih, terima kasih, pak. Uang ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.”
Ayah saya dan saya kembali masuk ke dalam mobil dan langsung pulang. Kami tidak jadi nonton sirkus malam itu, tetapi hati kami merasa senang dan sangat damai.

Pesan : jadilah orang baik yang selalu menolong sesama yang membutuhkan,, walaupun kelihatan sepele, tapi membawa kedamaian di hati,,
(Sumber: chickensoupforthesoul)

Re Story : https://www.facebook.com/FamilyGuideIndonesia

Pict Source : baabayyy.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.