Kemampuan Individu?

Michael Jordan at Boston GardenBasket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing- masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan.

Banyak sumber yang mengatakan bahwa kerjasama dalam kelompok sangatlah penting dan berpengaruh dalam permainan bola basket. Namun kali ini, saya akan membahas lebih dalam tentang pentingnya kemampuan individual dalam permainan basket.

Pada Kamis, 9 April 2015 yang lalu, saya melakukan observasi terhadap sekelompok orang yang sedang bermain basket di lapangan basket salah satu sekolah swasta di Jakarta. Saya memperhatikan dua permainan dengan anggota kelompok yang berbeda dengan tujuan untuk melihat pentingnya kemampuan individu dalam permainan berkelompok tersebut.

Terlihat bahwa hanya beberapa orang tertentu saja yang dapat mengontrol bola, dan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Mengapa demikian? Hal ini tentu karena kemampuan bermain orang- orang tersebut lebih unggul dari pemain lainnya. Kebanyakan dari orang yang mendominasi bola tersebut memiliki postur yang tegap, dan bergerak dengan sangat gesit dan terlihat yakin saat menggiring bola. Gerakan tersebut dapat mengecohkan dan mengelabui tim lawan.

Sebaliknya, orang- orang yang tak mendominasi bola biasanya berdiri dengan postur yang buruk, dan bergerak dengan lemah gemulai. Mereka berlari dengan terlalu banyak menggerakkan tangan secara lembut, sehingga gerakan menjadi lambat. Hal ini dapat memudahkan lawan untuk merebut bola dari orang- orang ini. Bahkan, saya dapat menemukan seorang anggota yang tidak mendapat bola sama sekali selama permainan berlangsung. Anggota tim yang satu ini berlari dengan sangat lemah lembut, dan ia bergerak lebih lambat dibandingkan dengan anggota tim lainnya.

Dari observasi sederhana ini, saya dapat menyimpulkan bahwa kemampuan individu memiliki peran yang sangat penting dalam permainan bola basket. Bayangkan, bila semua anggota tim memiliki postur yang kurang baik dan bergerak dengan lemah lembut. Saya rasa mereka tidak akan dapat bekerja sama dengan baik untuk mencetak angka, apalagi meraih kemenangan.

Hal ini tidak hanya dapat kita terapkan dalam permainan bola basket, namun juga dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari- hari. Contohnya dalam kerja kelompok di sekolah. Tak jarang saya menemukan anggota kelompok yang kurang berpartisipasi dalam kerja kelompok.

Orang- orang tersebut biasanya mempunyai kepribadian yang kurang lebih sama, yaitu kurang mau bekerja keras dalam setiap tugas yang diberikan, baik tugas individu maupun kelompok. Nilai akademis mereka juga biasanya kurang baik. Orang- orang tersebut pastinya akan menjatuhkan kelompok tersebut, karena saya yakin bahwa guru telah mengukur kesulitan setiap tugas dengan kemampuan para siswa, agar tugas tersebut dapat terselesaikan. Bila salah satu individu tidak mengerjakan tugasnya dengan baik, keberhasilan dari tugas tersebut pasti akan terhambat.

Hal ini juga mengajarkan bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan orang lain dalam berbagai hal di kehidupan kita sehari- hari. Bagaimana bila orang- orang yang biasa kita andalkan tiba- tiba tak lagi dapat membantu kita? Siapa lagi yang akan membantu kita selain diri kita sendiri? Maka itu, kemampuan individu sangatlah diperlukan bagi setiap mahluk hidup.

Namun, bagaimana caranya untuk meningkatkan kemampuan individu kita? Kita semua tahu bahwa berlatih adalah hal yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Kita harus belajar sedikit demi sedikit untuk tidak terlalu bergantung pada banyak orang. Cobalah untuk lakukan sebanyak mungkin hal tanpa harus mengandalkan kemampuan orang lain, agar kemampuan kita bertingkat.

Akhirnya, kita akan dapat terlepas dari orang yang selama ini kita andalkan. Dengan begitu, kita akan melepaskan beban orang tersebut, dan membantu diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini bukan berarti bahwa kita hanya harus bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain, karena manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat terlepas dari orang lain. Kita harus tetap membantu orang lain, maupun meminta bantuan orang lain bila dibutuhkan. Namun alangkah baiknya bila kita bisa meminimalisir kebutuhan untuk meminta bantuan kepada orang lain. (HANA/ 14 APRIL 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.