[LOMBA] Dampak Media Sosial dan Pelajar Sekolah

banner lomba menulis290Pada zaman serba ‘mutakhir’ ini, manusia selalu berusaha bangkit dari segala keterpurukannya. Mereka berlomba-lomba menciptakan penemuan hebat yang mengguncang dunia. Dari situlah, keuntungan segudang mereka dapatkan. Salah satunya ialah penemuan teknologi yang digandrungi kaula muda hingga kini, yaitu: situs media sosial/social media sites.

Sobat-sobatku, begitulah ilmu teknologi bekerja. Mereka memusatkan pada generasi penerus bangsa untuk lebih maju. Dunia modern seakan mengharamkan kita, para pelajar sekolah untuk gagap teknologi. Lantas, setiap sekolah pun ikut berperan serta dalam mengekplorasi teknologi dan informasi untuk kemajuan para siswa, seperti pengaktifan WiFi/Wireless Fidelity,  sarana ruang komputer, dan sarana lainnya.

Dengan adanya teknologi-informasi yang semakin mumpuni, dan otak remaja yang memang selalu ingin mencoba hal baru, sobat pasti mengenal baik apa itu media sosial. Lalu, sobat-sobatku, apakah itu media sosial, dan apa saja dampaknya bagi kita, yang masih berstatus pelajar? Mari kita telusuri satu-persatu!

Menurut wikipedia, media sosial adalah sebuah media online, dan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.  Media sosial  yang paling marak digunakan, misalnya; Facebook, Twitter, Google+, Path, Instagram, dll. Situs-situs ini memudahkan kita untuk mencari jati diri, terutama bagi pelajar yang sedang pubertas. Pelajar biasanya lebih suka menggunakan media sosial  sebagai wadah ‘menyatakan perasaan’. Kita bisa menulis status-status di akun tentang apa yang kita alami, aktivitas apa yang sedang kita kerjakan, mencari teman lama, ataupun berbagi foto dan video terbaru.

Dengan adanya media sosial, kita, para pelajar lebih mudah memperluas jaringan pertemanan. Situs jejaring sosial membuat kita bisa mendapat banyak teman dari seluruh dunia, bahkan mampu berkomunikasi dengan video-call, Skype, dan Hangout, contohnya. Video-call adalah pilihan menarik, dan rata-rata para pelajar sangat menyukai ini. Selain sebagai sarana pembelajaran, pelajar akan terdorong untuk terus mengeksplorasi diri melalui teman-teman baru yang mereka temukan secara online, dan saling berinteraksi satu sama lain.

Media sosial juga akan memudahkan pelajar untuk memperoleh banyak informasi, seperti: penemuan-penemuan penting, event dan kontes lomba-lomba atau olimpiade, dan kabar-kabar teraktual lainnya. Dengan inilah, kita bisa mendapatkan banyak ilmu, turut berpatisipasi, bahkan mungkin dapat membantu tugas-tugas sekolah kita yang menumpuk.

Tak hanya itu, media sosial juga mampu membuat para pelajar saling menumbuhkan rasa empati, perhatian, dan lebih bersahabat. Misalnya memberikan perhatian ketika ada teman  yang memenangkan olimpiade, kita bisa memberi selamat dengan menyukai foto dan video mereka, atau mengomentari status mereka. Dengan itulah, persahabatan kita dapat terus terjalin dalam dunia maya.

Selain itu, media sosial juga memudahkan kita untuk saling berbagi (sharing), contohnya blog yang membuat kita bisa berbagi pengalaman hidup kita atau orang lain, dengan cara mempostingnya pada blog kita.

Namun, sobat, disisi lain, media sosial juga memiliki banyak dampak negatif. Biasanya pelajar yang baru mengenal media sosial lebih mudah kecanduan. Mereka menggunakan media sosial tanpa tahu waktu. Berjam-jam mereka di depan komputer, tanpa mengingat apapun, sampai tugas-tugas sekolah pun rela dikorbankan. Yang akhirnya berdampak pada ketidakpedulian terhadap tugas seorang siswa. Mereka cenderung malas belajar, karena lebih suka bermain game yang ada di situs media sosial. Bahkan karena ini pula, etika dan sopan santun para pelajar semakin pudar. Dengan beragam situs jejaring sosial,  tak sedikit para pelajar yang suka mengatakan bahasa yang kurang pantas, dan mengandung SARA. Mereka menganggap itu hal lazim dan kadang berasumsi itu adalah bahasa keren anak zaman sekarang. Saking kecanduannya, mereka pun juga tidak perduli lagi dengan tata krama, tata bahasa dan ejaan yang benar.

Dampak negatif lain, yaitu rasa segan pelajar untuk berkomunikasi dalam dunia nyata. Pemahaman terhadap bahasa juga akan  bermasalah, karena pelajar cepat atau lambat akan labil. Mereka lebih suka berkomunikasi di dunia maya. Ini juga dapat mengakibatkan cara bersosialisasi agak terganggu. Tak hanya itu, media sosial akan membuat pelajar lebih egois dan individualistis. Karena keseringan menghabiskan waktu dengan internet, mereka cenderung tidak perduli lagi dengan keadaan lingkungan nyata di sekitar mereka. Tak hanya sampai disitu, situs-situs jejaring sosial juga marak dijadikan sarana kejahatan. Bagi pelajar yang sudah kecanduan, penipuan-penipuan akan mudah mereka terima. Bahkan penculikan, pembunuhan, dan pemerkosaan sekarang biasanya memilih target pelajar-pelajar sekolah yang tengah ‘keracunan’ penggunaan media sosial.

Maka dari itu, keluarga, guru, dan teman sangat berperan penting untuk mengawasi para pelajar yang telah ketergantungan. Terutama orangtua. Faktor lingkungan juga berpengaruh untuk mendorong mereka. Orangtua seharusnya membatasi waktu anak-anak mereka bermain di depan layar komputer dalam waktu lama, mengawasi apa saja yang mereka lihat, dan kalau bisa memblokir beberapa situs bila sang anak semakin membangkang. Orangtua lebih baik juga menjelaskan tata krama bergaul dengan teman online, serta mengingatkan agar anak tidak terpengaruh dengan ajakan orang-orang asing yang tidak dikenal.

Lalu bagaimana sih, caranya bagi sobat-sobat mencegah dampak negatif penggunaan media sosial secara efisien? Ini ada beberapa sumbangan pemikiran saya untuk mencegah dampak negatif media sosial. Mari kita baca bersama!

  1. Hindari mengakses internet sendirian atau di kamar pribadi, agar orangtua dapat dengan mudah mengontrol apa saja yang sobat lakukan.
  2. Memanfaatkan penggunaan internet seefektif dan seefisien mungkin untuk mencegah ketergantungan. Misalnya dengan mengikuti lomba-lomba online yang membuat waktu sobat tidak terbuang percuma.
  3. Teliti dalam memilah-milah situh jejaring sosial yang digunakan. Dan jangan menggunakannya sebagai sarana melakukan kejahatan.
  4. Memblokir situs-situs yang tidak edukatif, dan kurang pantas. Dan jangan lupa menjaga jarak dengan komputer agar tidak merusak mata.

Dan yang pastinya, kita semua adalah makhluk globalisasi. Kita dituntut peka dalam teknologi, namun kita tetap harus selektif dalam memilihnya. Kita harus bisa mengatur waktu, jangan sampai membiarkan tugas-tugas kita terbengkalai karena kecanduan menggunakan situs media sosial. Isilah banyak waktu dengan hal lebih berguna. Bagaimanapun, dengan eksistensi media sosial di kalangan pelajar, banyak tidaknya, pasti menimbulkan beberapa dampak pada kita, dan kita tidak bisa begitu saja mengacuhkannya. Perubahan dan pencegahan pun memerlukan proses lama. Harus dilakukan satu-persatu, kembali pada diri sendiri yang ingin berubah. Dan saya, yang juga seorang pelajar, sangat berharap kita semua senantiasa memilah-milah baik buruknya, berguna atau tidaknya setiap ‘cabang-cabang’ media sosial mulai dari sekarang, untuk masa depan kita ke depan.

Mari kita bersama-sama menjadi anak bangsa yang disiplin waktu, dan selalu mawas diri! Jangan jadikan dampak negatif media sosial penghalang  semangat kita untuk menjadi generasi penerus bangsa yang berprestasi. Teruslah berkarya untuk Indonesia!

6 Komentar

  1. Avatar

    Sangat menginspirasi tulisannya, Aulia. 😀 Kita sebagai pelajar memang harus berprestasi untuk Indonesia ! Semangat!

  2. Avatar

    Min , cara ngelikenya gimana yah?

    • Admin

      Dibagian paling bawah, sebelah kiri, ada kotak VOTE (5 bintang). Semakin banyak yang memberi Vote (suara) maka semakin besar kemungkinan untuk menang

      Jangan lupa share tulisanmu di media sosial yah..

      Good Luck !

Tinggalkan Balasan ke Nigitha Wahyu Pratama Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.