[LOMBA] Pandora Hitam Media Sosial

banner lomba menulis290Media sosial adalah media online yang penggunanya dapat berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi (blog, jejaring sosial, forum, dsb.). Masyarakat di seluruh dunia menggunakan media ini sebagai sarana berkomunikasi. Berbagai media sosial yang cukup terkenal di kalangan remaja antara lain, facebook, twitter, skype, youtube, instagram, dan masih banyak lagi.

Meski program-program tersebut memiliki keunikan dan keunggulannya tersendiri, namun pada intinya mereka diciptakan untuk memudahkan seseorang berkomunikasi dengan sesamanya. Di era globalisasi yang serba cepat ini, teknologi komunikasi menjadi modal yang sangat penting dalam kehidupan. Maka tidaklah mengherankan, jika kini media sosial telah dianggap menjadi sarana utama dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi.

Memang, berbicara tentang media sosial dan alat komunikasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan bagai dua sisi mata uang. Hampir setiap hari orang menggunakan media sosial dalam kehidupan. Entah sebagai sarana komunikasi dengan orang lain, sumber inspirasi dalam pembuatan karya, referensi menulis, kuliner, liburan, tempat mencari kawan baru, sumber pembelajaran, atau refresing yang murah setelah penat dengan kegiatan sehari-hari.
Kaum pelajar pun tidak mau ketinggalan. Sejak beberapa tahun terakhir, sudah banyak sekolah yang memanfaatkan teknologi komunikasi yang berupa internet untuk menyelesaikan tugas dan mendapat informasi lebih tentang materi pembelajarn. Bahkan sebagian sekolah menggunakan internet sebagai sarana pembelajaran dan pengumpulan tugas secara online seperti prezi, edmodo, schoology, e-mail dll. Mereka bahkan memanfaatkan media sosial sebagai arena berdiskusi, belajar bersama sebelum ulangan, dan sarana komunikasi guru dan murid di luar jam sekolah.

Memang tidak ada yang sempurna. Di balik berbagai kegunaan tersebut, ternyata media sosial juga memiliki sisi negatif. Seperti cerita HADES, dewa kematian dalam mitologi Yunani. Dewa Hades terkenal karena kelicikan dan kekejamannya. Media sosial memiliki berbagai cara “licik” untuk membuat seseorang tidak mau berhenti yang pada akhirnya akan membuat orang tersebut menyesal. Mari kita tilik kekurangan media sosial dari berbagai aspek.
Dari aspek sosial-budaya, media sosial secara nyata telah memperlihatkan dampak yang kurang positif. Semakin hari, semakin sedikit generasi muda yang tertarik untuk mempelajari dan melestarikan kebudayaan daerah. Banyak anak muda yang menganggap bahwa kebudayaan daerah itu kuno jika dibandingkan dengan kebudayaan luar atau asing yang mereka lihat melalui media sosial. Kaum muda tidak merasa memiliki dan mewarisi kebudayaan nenek moyang tetapi lebih memilih kebudayaan dari luar.

Sikap apatis yang ditunjukkan anak-anak dan remaja, terutama di daerah perkotaan. Sikap nyata dapat kita temukan di mall atau tempat umum. Kita dapat melihat anak-anak dan remaja pergi berombongan tetapi masing-masing sibuk dengan gadget atau ponselnya. Tak terlihat lagi kebiasaan mengobrol dengan keluarga atau teman. Mereka lebih suka chatting dan bermain game dengan gadget tersebut daripada menikmati waktu kebersamaan mereka. Hingga sering kita dengar joke tentang media sosial, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Mereka terlalu asyik dengan media social hingga tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Toleransi dan tenggang rasa yang menjadi kebanggaan bangsa kita pun sirna. Saat orang yang sedang mengepel misalnya, orang bisa langsung menginjak lantai basah tanpa perlu permisi dan merasa bersalah. Ini bisa terjadi karena kaum muda tidak lagi mau peduli dengan lingkungan namun terpaku pada gadget.

Sikap apatis tadi juga berdampak pada merosotnya etika moral anak-anak bangsa. Egoisme dan sikap masa bodoh terhadap lingkungan juga bisa menjadikan anak anti sosial. Belum lagi masalah pornografi yang menjadi keprihatinan. Banyak iklan pornografi tersebar bebas di halaman media sosial dan dapat diakses siapa saja. Dengan menekan tombol tertentu seseorang dapat langsung masuk ke situs porno. Dampaknya tentu sangat berbahaya, karena pornografi bisa berujung pada kriminalitas, seperti human trafficking, pemerkosaan, bahkan sampai pembunuhan.

Tidak sedikit korban berkenalan dengan pelaku kejahatan melalui media sosial. Pelaku aksi bejat tersebut ‘terhipnotis’ tayangan video porno yang mereka tonton dari media sosial. Belum lagi game online yang menampilkan adegan perampokan, kekerasan atau pembunuhan. Bukannya tidak mungkin anak-anak yang bermain game tersebut akhirnya meniru adegan tersebut. Hal ini semakin parah jika orang tua juga sibuk dengan dunianya atau pekerjaannya hingga tidak ada waktu untuk mengotrol anak-anaknya.
Dampak lain adalah gangguan kesehatan dan psikologis. Sikap kecanduan pada media sosial dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan, seperti obesitas (kegemukan). Obesitas akan dengan mudah menghampiri mereka karena kurangnya aktivitas fisik. Selain itu beberapa penyakit lain, seperti gangguan mata, akibat terlalu lama menatap layar. Penyakit wasir atau ambeien karena kelamaan duduk statis. Bahkan bisa terjadi sindrom otot pergelangan tangan.

Selain penyakit-penyakit tersebut, orang yang kecanduan bermain game online, terutama game yang mengandung kekerasan, biasanya akan lebih agresif jika dibandingkan yang tidak memainkan permainan tersebut. Hal ini disebabkan otak terbiasa dipaksa berambisi menang dan selalu siaga saat ada orang yang datang, tidak perduli teman atau lawan.

Selanjutnya gangguan secara psikologis. Tentu Anda sering mendengar tentang cyber bullying, bukan? Cyber bullying adalah bullying yang dilakukan lewat media sosial. Bullying jenis ini diketahui dapat lebih berbahaya dibandingkan bullying verbal atau fisik. Bagaimana tidak? Jika pada dua jenis bullying sebelumnya, mungkin hanya segelintir orang saja pelakunya. Akan tetapi lewat media sosial, orang akan dengan mudah mengikuti tanpa harus dikomando. Selain itu ada Sleep Texting Disorder, penderita dapat secara tidak sadar mengirim pesan lewat ponsel.
Dengan kata lain kemajuan teknologi komunikasi ini juga berdampak negatif pada dunia pendidikan. Siswa bisa memiliki hasil belajar yang tidak maksimal ketika hidupnya bergantung pada gadget.
Media sosial memang seperti bumerang dan pedang bermata dua. Media ini dapat kita jadikan senjata untuk melawan musuh ketika kita gunakan dengan tepat. Namun bisa berbalik menyerang diri tatkala kita salah dan tidak waspada dalam menggunakannya. Semuanya tergantung pada pilihan dan cara kita menggunakan dan memanfaatkannya. Pilihan kembali pada diri masing-masing.

Agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat perlu kedewasaan dan iman yang kuat. Remaja harus mampu berpikir dengan kritis dalam menentukan skala prioritas. Kesadaran diri untuk menggunakan media sosial dengan baik tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Keterlibatan orang tua, sekolah, bahkan pemerintah sangat diharapkan. Perlu kita ingat, bahwa media sosial dibuat untuk modernisasi dan mempermudah kehidupan, bukan robotisasi apalagi kriminalisasi. Media sosial untuk kemudahan, ajang kreasi, dan aktualisasi diri demi kemajuan.

Jangan sampai kemajuan teknologi justru menjadi Pandora Hitam yang akan mengancam keselamat generasi muda suatu bangsa.

Salam Penulis! (EOG;13/01/15;15.55 PM)

Satu Komen

  1. Avatar

    Selamat datang Okita di DD, benar bahwa kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi sangat diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.