[Lomba] Kenapa Media Sosial?

 

Media sosial menjadi fenomena yang lumrah di era teknologi yang berkembang pesat di Indonesia, bagaikan membangun peradaban baru. Tanpa memandang usia, profesi, serta status social, berbagai kalangan seolah wajib berkenalan dengan media sosial. Bermacam-macam situs dengan keunggulan dan ciri khasnya masing-masing bersaing di hati para pengguna.

Lalu, bagaimana di kalangan pelajar? Dapat dipastikan sebagian besar pengguna media social adalah usia pelajar baik sedang menempuh pendidikkan maupun tidak bersekolah. Menjamurnya warnet (warung internet) di tengah-tengah masyarakat semakin mempermudah dalam mengakses internet dan memperkenalkan media sosial. Diikuti dengan kebutuhan informasi, komunikasi, sarana mencurahkan ekspresi dan pikiran membuat media sosial menjadi zona nyaman bagi kalangan pelajar.

Sebagian besar kalangan pelajar memanfaatkan media sosial untuk mencurahkan ekspresi baik berupa tulisan, gambar, maupun video. Seolah menjadi pemuasan kebutuhan akan perhatian. Dengan begitu mereka merasa diperhatikan, lebih puas lagi jika ada yang berkomentar pada status yang mereka posting untuk bersimpati maupun hanya berupa ‘like’ pada facebook, ‘retweet’ pada twitter sebagai tanda atau pernyataan tidak langsung bahwa pengguna lain sependapat dengan apa yang ia tulis atau pernyataan tentang keberadaannya di media sosial. Tak jarang si pemberi komentar atau likers tersebut mengharap hal yang sama sebagai wujud timbal balik ketika ia memposting di media sosial yang sama.

Keberadaan media sosial seperti facebook, twitter, instagram, plurk, menjadi wadah sekaligus ‘rumah kedua’ yang nyaris menggantikan posisi sahabat maupun keluarga sebagai lahan mencurahkan perasaan baik kabar gembira maupun persoalan yang sedang dialami. Nyatanya media social hanya sebagai tempat pemuasan jangka pendek tanpa benar-benar membantu dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Dalam sehari membuka jejaring sosial menjadi kewajiban rutin, bila tidak dilakukan akan memberikan beberapa efek seperti kegalauan, jenuh, dan cemas. Media sosial bukan lagi menjadi hiburan diwaktu luang melainkan ‘teman’ dimanapun dan kapanpun, di sekolah baik ketika jam kosong maupun jam belajar, ketika berjalan tanpa peduli suasana jalanan yang ramai atau sepi, sambil menunggu, bahkan di tempat yang paling privasi yaitu toilet. Tak jarang beberapa kalangan pelajar menjadikan media sosial yang wajib dibuka pertama kali ketika bersinggungan dengan internet.

Banyak kasus kejahatan terjadi dengan pangkal masalah media sosial, seperti salah paham, pencemaran nama baik, pelecehan seksual, pencurian data-data pribadi, bahkan pembunuhan. Sebagian besar bersangkutan dengan kalangan pelajar baik sebagai korban maupun tersangka. Hal-hal negative tersebut lebih karena pengguna media sosial yang kurang bijak dalam menggunakan kebijakan.

Di sisi lain, adanya media sosial memberi banyak keuntungan bagi kalangan pelajar. Selain mempermudah dalam berkomunikasi, menambah informasi, menjalin hubungan sosial dengan memperbanyak teman, bergabung pada komunitas yang sesuai dengan minat dan bakat sehingga memperluas jaringan dan pengalaman, media sosial juga menjadi lahan yang tepat untuk belajar berbisnis kecil-kecilan bagi kaum pelajar yang separuh waktunya habis di sekolah.

Berkembangnya media sosial seiring dengan maraknya online shop dimana sebagian besar pemiliknya adalah kaum pelajar yang memanfaatkan waktu luang sambil mengaplikasikan kemampuan entrepreneur, mencari uang jajan tambahan dengan berdagang di media social. Hanya bermodal gadget, pulsa internet, kemampuan berbicara serta keberanian. Kebanyakan mereka memperoleh barang dagangan dari sumber lain lalu dijual dengan harga yang disesuaikan berdasarkan modal dan kebutuhan dalam pengiriman barang, beberapa diantaranya menggunakan prinsip dagang orang Cina yaitu sedikit keuntungan asal banyak pelanggan.

Bagi pelajar berbisnis dengan media social sangatlah mudah untuk melatih kemampuan dan cocok sebagai lahan mendapatkan uang cuma-cuma. Sungguh disayangkan jika pengguna jejaring sosial memanfaatkan media sosial dengan sebaliknya yaitu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Media sosial agaknya menjadi pengingat bagaimana cara kita menghargai waktu dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebab dampak media social bukan dari apa yang terjadi karenanya tapi tergantung bagaimana cara pengguna jejaring social memanfaatkannya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.