Kacang Ujian Nasional

kacangUjian Nasional adalah kegiatan tahunan yang selalu memiliki kisahnya sendiri. Suka, tidak suka, mau, tidak mau, siap, tidak siap, ujian nasional akan tetap terlaksana. Hingga detik ini Ujian Nasional telah mengalami berbagai perubahan baik fungsi maupun kebijakan-kebijakan yang ditetapkan berkaitan dengan sistem.

Ujian Nasional juga punya pandangan tersendiri bagi tiap orang. Sebab sebuah sistem diciptakan bersama kebaikan dan keburukkan yang terjadi karenanya, demikian pula Ujian Nasional. Beredar kunci jawaban atau biasa disebut ‘Kacang’ menjadi salah satu hal yang lumrah setiap tahun. ‘Kacang’ Ujian Nasional dijual dengan harga yang cukup terjangkau sekitar Rp 50.000 s/d Rp 500.000 per ‘Kacang’ yang mencakup banyak paket.

Beberapa pelajar tergiur hingga rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli ‘Kacang’ UN, meskipun mereka tidak dapat memastikan apakah ‘Kacang’ itu asli atau palsu, meski banyak pelajar yang punya pengalaman buruk dengan ‘Kacang’ UN, dan meskipun resiko yang harus dihadapi cukup besar.

Pertanyaannya, “Darimana sumber ‘Kacang’ tersebut dan bagaimana ‘Kacang’ mampu menjamin nilai sempurna dalam Ujian Nasional?”, bukankah soal Ujian Nasional bersifat sangat rahasia bahkan diberi ‘perlindungan’ ketika distribusi hingga soal sampai di tangan peserta ujian?

Fakta ‘Kacang’ Ujian Nasional:

  1. Menjamin nilai tinggi ketika ujian? Realitanya, pengguna ‘Kacang’ UN belum tentu mendapat nilai tinggi ketika Ujian.
  2. Meringankan beban peserta Ujian? Nyatanya keringanan itu hanya sesaat yaitu pada saat Ujian Nasional berlangsung, sementara banyak ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan setelah Ujian.
  3. Aman-aman aja selama nggak ketahuan? Heloo… sekarang hampir semua sekolah memasang CCTV di setiap kelas. Nggak takut juga? Tuhan, Sang Pencipta, Maha Tahu dan Maha Melihat. Mungkin kalian selamat dalam Ujian Nasional karena memakai ‘Kacang’, tapi ingat, di akhirat nanti segala hal yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Bukan guru, orangtua, atau pengawas ujian (yang nggak tau kalau peserta UN menyontek) tapi diri sendiri yang akan menerima ‘balasan’ atas ketidakjujuran sekaligus tindakan ‘korupsi’ itu.

Kenapa menyontek termasuk tindakan korupsi? Jelas, menyontek sama saja melakukan penyalahgunaan kesempatan, sebab hasil UN yang didapat dari menyontek bukan hasil kerja keras sendiri, sedangkan UN dapat dijadikan tolak ukur kemampuan. Kalau peserta UN sudah punya mental koruptor lalu bagaimana ketika di lapangan pekerjaan nanti? Tambah bobrok saja warga Indonesia jika korupsi dibiarkan berkembang, untuk apa masyarakat gembor-gembor melarang korupsi, mencela pejabat yang korupsi, jika masyarakat tetap membiarkan kegiatan menyontek . Masyarakat yang disoroti disini adalah pengawas ujian, pengedar ‘Kacang’, serta peserta UN yang diharapkan bisa menjadi pelita bangsa.

Jadi, kenapa masih menyontek dan percaya pada ‘Kacang’ jika menginginkan masyarakat yang jujur dan beradab? Bagaimana Indonesia bisa maju kalau para pelajar punya mental korupsi? Lebih baik dapat nilai pas-pasan asal hasil sendiri daripada nilai tinggi hasil menyontek. Ingat, segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan suatu saat nanti.

2 Komentar

  1. Avatar

    Mungkin para pejabat yang korupsi, saat ujian juga sering nyontek ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.