SMA Negeri 5 Semarang

logo sma 5 smgSMA Negeri 5 Semarang berada dalam posisi yang serba menguntungkan. Lokasinya strategis, berada di jantung Kota Semarang, sarana-prasarana ditata secara menarik dan cukup representatif untuk kegiatan proses pembelajaran. Sistem manajemen kependidikan digarap secara serius sehingga mampu meningkatkan etos kerja yang lebih peduli terhadap perkembangan peserta didik. Peserta didik yang berminat belajar di SMA Negeri 5 Semarang juga kategori bernilai baik. Inilah yang kemudian SMA Negeri 5 Semarang menjadi salah satu sekolah pilihan bagi calon siswa dan orang tua di antara sekian sekolah favorit di Semarang.

Keberadaan seperti ini tidak datang dengan sendirinya melainkan melalui proses panjang dan penuh perjuangan. Semua sektor harus bekerja keras dan mampu bekerja sama dengan baik. Dalam upaya mencapai tujuan yang dinginkan agar SMA Negeri 5 Semarang memperoleh kemajuan yang lebih berarti, maka berikut ini merupakan gambaran sekilas SMA Negeri 5 Semarang, mulai dari sejarah, potensi yang dimiliki, dan berbagai prestasi yang pernah dicapai.

sma-negeri-5-semarang
semarangkota.com

Lahir di Komplek Kepolisian

Tahun 1964, waktu itu jumlah SMA Negeri di Semarang baru ada empat sekolah. SMA swasta pun jumlahnya masih sedikit. Padahal jumlah siswa SMP yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi cukup banyak. Sedangkan untuk membuka SMA baru sangat berat karena kondisi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok saja, masyarakat mengalami kesulitan apalagi membiayai pendidikan atau mendirikan lembaga pendidikan.

Dalam kondisi sesulit apapun anak-anak harus tetap sekolah. Tekad dan semangat yang tumbuh di masa itu. Ini terbukti dengan adanya kepedulian sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan Candi Baru. Mereka merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan masa depan generasi muda. Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo.

Kesadaran bahwa generasi muda adalah kekuatan pembangunan di masa depan dan hanya dengan kecerdasan mereka dapat berbuat sesuatu bagi bangsa dan negaranya, maka langkah selanjutnya adalah menggalang kerjasama dengan Perwakilan P & K Provinsi Jawa Tengah sekarang (Kantor Dinas Pendidkkan dan Kebudayaan). Tepat pada tanggal 1 Agustus 1964 berdirilah SMA Negeri 5 Semarang, dan Drs. Muh. Sahid ditunjuk sebagai Kepala Sekolah.

sma5 smg
http://jateng.tribunnews.com/

Pendirian SMA Negeri 5 Semarang di masa sulit membawa konsekuensi yang sangat berat, karena belum mempunyai bangunan sekolah, tenaga pengajar banyak yang tidak proporsional serta tenaga tata usaha sangat terbatas. Tingginya kesadaran masyarakat tentang perlunya pendidikan mendorong berbagai pihak untuk segera mewujudkan terselenggaranya proses belajar mengajar di SMA Negeri 5 Semarang.

Dihadapkan situasi yang serba sulit untuk mencari tempat, ada instansi berbaik hati, yaitu POLRI dengan meminjamkan beberapa lokal PUSDIK POLRI untuk dijadikan kelas dan ruang kantor, walaupun letaknya terpencar. Akhirnya Perwakilan P & K Provinsi Jawa Tengah membantu berupa peminjaman tenaga pengajar dan staf tata usaha dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Semarang, dengan satu-satunya guru tetap adalah kepala sekolah. Sedangkan biaya operasional penyelenggaraan pendidikan ditanggung oleh Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (PMOG), dengan pengurus harian antara lain R.M. Suprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunarjo.

Dengan keterbatasan itulah, justru melahirkan kekompakan dan semangat kebersamaan di antara guru dan siswa. Ini terlihat pada tingginya sense of belonging (rasa memiliki) dari para siswa yang tercermin dalam proses pembelajaran yang tertib dan lancar. Semua dilaksanakan dengan bertanggung jawab dan penuh rasa bangga.

Setelah melihat perkembangan yang semakin baik, maka SMA 5 Semarang dipindahkan menjadi satu kampus dengan SPG Negeri Semarang di Kagok Jalan Sultan Agung Semarang (sekarang untuk SMA dan AKS Kartini), dengan menempati 6 lokal/kelas.

Satu kampus untuk dua sekolah tidak menimbulkan masalah, bahkan dilihat dari segi administratif maupun proses belajar mengajar dapat dikatakan efektif. Penyatuan kampus ini secara psikologis berpengaruh terhadap etos kerja para tenaga pengajar dan staf tata usaha. Demikian pula para siswa, suasana sekolah yang tidak berada dalam komplek kepolisian, merasa lebih bebas untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Waktu terus berjalan dan seiring dengan perkembangan SMA Negeri 5 Semarang yang cukup membanggakan, maka guru dan para pengurus PMOG dituntut mampu mengatasi permasalahan yang akan muncul pada tahun ketiga ajaran baru, yaitu kebutuhan penambahan lokal. Jika permasalahan ini selalu muncul di setiap tahun ajaran baru, kapan SMA Nageri 5 Semarang dapat memiliki kampus sendiri.

Keinginan ini sulit diwujudkan, karena bersamaan dengan tahun meletusnya peristiwa G 30 S kondisi ekonomi dan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Keinginan untuk dapat memiliki gedung sekolah sendiri dalam jangka waktu dekat semakin jauh dari angan-angan.

Perjuangan Memiliki Kampus Sendiri

Dengan keberhasilan pemerintah menumpas Gerakan 30 September, lalu disitalah beberapa aset yang dimiliki oleh PKI, seperti gedung sekolah. Dengan sigap para pengelola SMA Negeri 5 Semarang mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk memanfaatkan gedung bekas sekolah “ Wha Ing” di jalan Pemuda yang ditutup karena keterlibantan para pengelolanya dalam Pemberontakan G 30 S.

Permohonan itu ditolak karena gedung bekas sekolah “Wha Ing” akan dipergunakan oleh IKIP Negeri Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang). Ditolaknya pemohonan tersebut tidak membuat para guru dan staf tata usaha serta pengurus PMOG dan siswa menjadi patah arang. Justru sebaliknya malah menambah besar semangat mereka dalam berjuang.

Pada tanggal 20 Januari 1966, para guru, Staf Tata Usaha dan seluruh siswa dengan mengenakan pakaian serba putih berjalan kaki dari Candi mendatangi kantor Perwakilan P& K (yang waktu itu berada di Jalan Ki Mangunsankoro), kembali mengajukan permohonanya. Unjuk rasa yang dilakukan secara damai ini ditanggapi dengan baik oleh Perwakilan P& K waktu itu (Slamet).

Setelah bernegosiasi dihasilkan beberapa butir kesepakatan anatara lain:

permohonan SMA 5 Semarang dikabulkan,
untuk sementara diizinkan menempati 6 lokal,
kebutuhan lokal tahun pelajaran baru akan ditinjau lebih lanjut.

Keputusan itu diterima dengan sukacita oleh segenap guru, staf TU, pengurus PMOC terlebih-lebih para siswa SMA Negeri 5 Semarang. Atas dasar itulah, maka pada tanggal 23 Januari 1966 dilakukan kerja bakti membersihkan ruangan yang akan ditempati. Sejak saat pula, penyelenggaraan belajar-mengajar SMA Negeri 5 Semarang berlangsung di bekas sekolah “Wha Ing” bersama dengan IKIP Negeri Semarang dan proses belajar-mengajar berjalan dengan normal.

Waktu terus bergulir, tidak terasa kenaikan kelas telah tiba dan tahun pelajaran barupun berlangsung. Dengan hanya mempunyai 6 lokal, terpaksa pembelajaran dilakukan dengan cara bergiliran dalam penggunaan ruangan kelas.

Selanjutnya pada bulan September 1966, pihak SMA Negeri 5 Semarang mengajukan permohonan lisan maupun tertulis kepada IKIP Negeri Semarang untuk dapat menggunakan 3 lokal yang kosong. Permohonan ditolak oleh pihak IKIP. Karena didorong oleh kebutuhan dan keinginan yang mendesak agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan lancar, maka secara paksa lokal kosong tersebut diduduki oleh siswa SMA Negeri 5 Semarang untuk dipakai sebagai kelas.

Akibatnya ketegangan pun terjadi terutama antara siswa SMA Negeri 5 Semarang dengan pihak IKIP Negeri Semarang. Masing-masing mempertahankan untuk saling menduduki. Setiap malam para siswa bergantian berjaga-jaga. Satu hal yang patut disyukuri, walaupun konflik antara siswa SMA Negeri 5 Semarang dengan mahasiswa IKIP Negeri Semarang cukup mencekam, namun bentrokan fisik dapat dihindari.

Dalam upaya menyelesaian konflik tersebut, maka tanggal 1 Desember 1966 KODIM memanggil Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Semarang, Drs. Muh. Sahid dan pihak IKIP Negeri Semarang untuk dimintai keterangan. Debat adu argumentasi antara kedua belah pihak yang bersengketa berlangsung seru dan masing-masing mengeluarkan dokumen untuk mendukung argumentasi.

Penyelesaian konflik ini, SMA Negeri 5 Semarang berada dalam pihak yang diuntungkan, karena diizinkan secara resmi menggunakan tiga lokal tersebut. Dengan dimilikinya tiga lokal tambahan, maka proses pembelajaran semakin berjalan tertib, lancar, dan aman.

SMA Negeri 5 Semarang sebagai Pilot PPSP di Jawa Tengah

Pada tahun 1971 SMA Negeri 5 Semarang sebagai satu-satunya sekolah di Jawa Tengah yang menjadi Pilot Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Sebagai pilot PPSP, di sekolah ini berlangsung pendidikan 11 tahun. Artinya sejak saat itu SMA Negeri 5 Semarang juga menyelenggarakan pendidikan secara terpadu dan berkseinambungan, sejak dari SD, SMP hingga SMA. Sejak saat itu pula, bekas sekolah “Wha Ing” di jalan Pemuda, bangunan dan semua isinya, seratus persen menjadi kampus SMA Negeri 5 Semarang.

D. Prestasi

Perkembangan selanjutnya SMA Negeri 5 Semarang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyak prestasi yang diperoleh, antara lain dalam bidang akademik pernah menjuarai lomba astronomi (Fisika) tingkat nasional dan sering menjuarai lomba mata pelajaran lain pada tingkat Jawa Tengah. Dalam bidang olah raga, tim SMA Negeri 5 Semarang pernah menjuarai lomba basket tingkat Jawa Tengah. Demikian juga dalam bidang seni, melalui Teater Lima pernah memperoleh nominasi grup pemain teater terbaik pada tingkat Jawa Tengah.

Dari sisi lain, guru SMA Negeri 5 Semarang juga banyak yang berprestasi. Kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa guru yang terpilih sebagai nominasi guru teladan. Ada pula yang mendapat kesempatan mengikuti studi banding ke luar negeri dengan harapan bahwa pengalaman dan pengamatannya terhadap pendidikan dapat memacu perkembangan SMA Negeri 5 Semarang.

Selain beberapa prestasi di atas, masih banyak prestasi lain yang dapat membawa nama harum SMA Negeri 5 Semarang. Misalnya, prestasi dalam bidang kemampuan berbahasa Inggris, karya ilmiah, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Sumber : http://sman5smg.siap-sekolah.com/sekolah-profil/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.