Kisah Leafie, Seekor Ayam di Alam Liar

Leafie: A Hen into the Wild adalah sebuah film animasi anak-anak dari Korea. Film tahun 2011 ini menceritakan tentang seekor ayam petelur bernama Leafie yang kabur dari peternakan ayam untuk tinggal di alam liar. Diangkat dari sebuah buku anak-anak karya Hwang Sun-mi, film ini berhasil menggarap 2.2 juta penonton.

Pada awal film, diperlihatkan bahwa kondisi hidup Leafie sangat menyedihkan. Leafie hanya bisa makan dan bertelur bersama dengan kumpulan ayam lainnya di kandang tertutup. Bahkan setelah bertelur, ia tidak bisa mengerami telurnya sendiri. Telurnya dikumpulkan oleh pemilik peternakan dan dijual. Dari kandangnya, Leafie bisa melihat kumpulan binatang ternak yang hidup bebas di lahan peternakan. Para binatang itu bisa membesarkan anak-anak mereka sendiri dan tidak terbatas oleh apapun. Leafie pun bermimpi untuk suatu hari nanti bisa tinggal di lahan dan mengerami telurnya sendiri, lalu membesarkan anaknya.

Leafie pun kabur dari peternakan dengan berpura-pura mati. Sayangnya kebahagiaan Leafie akan kebebasannya tidak berlangsung lama. Seekor musang betina mencoba memangsa Leafie, dan ia tidak berdaya menghadapi musang itu. Untungnya Leafie diselamatkan oleh seekor bebek liar bernama Pengembara. Terpesona oleh Pengembara, Leafie mengikutinya untuk tinggal di komunitas liar. Dibantu oleh Tuan Walikota, seekor berang-berang, Leafie menemukan rumah di  semak mawar liar.

Tidak lama setelah tinggal di komunitas liar, Leafie mengetahui bahwa Pengembara sudah mempunyai pasangan. Perasaan terpesona Leafie terhadap Pengembara pun hilang. Suatu malam, musang betina memangsa pasangan Pengembara, meninggalkan Pengembara sendiri bersama sebuah telur. Leafie pun membantu Pengembara mengerami telur itu. Pengembara kemudian berpesan kepada Leafie untuk membawa anaknya ke alam liar sebelum pergi melawan musang betina dan mati. Leafie sangat sedih karena kematian Pengembara, tetapi ia cepat melupakan kesedihannya karena harus mengurus anak bebek yang baru lahir.

Bersama Kepala Hijau, anak bebek yang diadopsinya, Leafie kemudian pindah ke alam liar. Di sana, mereka mengalami berbagai kesulitan dengan hewan-hewan yang tinggal di alam liar. Leafie dianggap aneh dan dijauhi oleh hewan-hewan tersebut. Hal ini berakibat juga pada Kepala Hijau, karena ia menjadi tidak punya teman di alam liar. Walaupun begitu, ia selalu dibantu oleh Tuan Walikota. Kepala Hijau juga belajar terbang dari burung hantu dan kelelawar.

Seiring pertumbuhannya, ia mulai menyadari perbedaannya dengan Leafie. Setelah beranjak remaja, ia akhirnya pergi meninggalkan Leafie karena merasa ia tidak membutuhkan Leafie. Kepala Hijau berjalan-jalan dan akhirnya sampai ke peternakan tempat Leafie tinggal dulu. Si peternak melihat Kepala Hijau dan mencoba menangkapnya, tetapi Leafie datang untuk menyelamatkan Kepala Hijau. Sejak saat itu, Kepala Hijau sadar bahwa walaupun ia dan Leafie berbeda, Leafie masih menyayanginya.

Tidak lama kemudian, musim gugur tiba. Kumpulan bebek liar datang ke alam liar dan bersiap-siap untuk bermigrasi. Leafie mendorong Kepala Hijau untuk bergabung dengan kumpulan itu. Kepala Hijau pun mengikuti lomba terbang untuk menjadi bebek penjaga. Ia memenangkan lomba itu dan ia menjadi bebek penjaga baru kumpulan bebek liar itu. Saat musim dingin tiba, Kepala Hijau harus pergi meninggalkan Leafie.

Sebelum Kepala Hijau pergi, Leafie berjalan-jalan mencari makanan dan menemukan sarang musang betina. Di sana ia menemukan anak-anak musang yang kelaparan. Musang betina itu kembali ke sarangnya dan mengusir Leafie pergi. Leafie kemudian berpisah dengan Kepala Hijau. Leafie berjanji akan selalu mengingat Kepala Hijau dan menunggu kepulangannya. Kepala Hijau pun pergi bersama kumpulannya. Leafie kemudian bertemu dengan musang betina yang sedang mencari makanan supaya bisa menyusui anak-anaknya. Ia mengorbankan dirinya untuk musang itu, supaya musang itu bisa menyusui anak-anaknya.

Dari film ini, penonton dapat belajar tentang kasih. Kasih tidak mengenal syarat, apalagi kasih antara seorang ibu untuk anaknya. Leafie sangat menyayangi Kepala Hijau walaupun sebenarnya ia bukanlah anaknya sendiri. Saat Kepala Hijau meninggalkan Leafie, ia tidak marah dan bahkan masih mengkhawatirkan Kepala Hijau. Leafie juga merelakan Kepala Hijau pergi bersama kumpulannya, karena ia tahu bahwa Kepala Hijau harus hidup bersama bebek liar lainnya. Pada akhir film, Leafie juga mengorbankan dirinya untuk dimakan oleh musang betina supaya musang betina itu bisa menyusui anak-anaknya.

Kasih memang tidak mengenal batas. Akan tetapi, butuh keberanian yang besar bagi kita untuk menunjukkan kasih itu bagi sesama. Kita sudah melihat bagaimana Leafie dapat mengasihi sesamanya, bahkan sampai rela berkorban untuk itu. Patutlah kita meniru Leafie dalam mengasihi sesama kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.