Sindrom Stockholm: Kasus Patty Hearst

Sindrom Stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau resiko yang telah dialami oleh sandera itu. Mungkin hal ini terdengar tidak mungkin. Bagaimana caranya seorang sandera penculikan bisa menjadi setia pada penculiknya? Kebanyakan orang pasti sulit mempercayai hal itu. Akan tetapi, sindrom Stockholm bukanlah rekayasa.

Sindrom ini dinamai berdasarkan kejadian perampokan Sveriges Kreditbank di Stockholm pada tahun 1973. Dua orang perampok, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson menggunakan senjata untuk menyandera karyawan bank tersebut. Para karyawan disandera selama 5 hari dari 23 Agustus sampai 28 Agustus 1973. Setelah dibebaskan, para korban tidak marah ataupun membenci para penyandera. Mereka malah memeluk dan menciumi para perampok. Para korban terlihat sangat menyayangi penyandera mereka, bahkan membela mereka. Salah satu sandera, seorang wanita bernama Kristim bahkan sampai jatuh cinta pada salah satu perampok dan akhirnya membatalkan pertunangan dengan kekasihnya setelah dibebaskan.

Salah satu bukti nyata sindrom Stockholm adalah kasus Patricia Campbell Hearst atau Patty Hearst, seorang ahli waris milyuner yang diculik oleh Symbionese Liberation Army. Pada 4 Februari 1974, Patty diculik dari apartemennya. Sekelompok orang bersenjata masuk ke dalam apartemen Patty, memukuli tunangannya lalu membawa Patty dalam bagasi mobil mereka.

Symbionese Liberation Army atau SLA yang menculik Patty adalah sebuah kelompok radikal bersenjata yang dipimpin oleh Donald DeFreeze. SLA bertujuan untuk melawan Pemerintah AS yang mereka sebut negara kapitalis. SLA menuntut keluarga Hearst untuk menyumbang US$ 70 dalam bentuk makanan kepada setiap orang membutuhkan di area Santa Rosa sampai Los Angeles. Keluarga Hearst pun menyanggupinya dan menyumbang bahan makanan seharga US$ 2 juta. Walaupun begitu, SLA belum membebaskan Patty.

Beberapa bulan kemudian, datanglah sebuah kabar mengejutkan. Patty sendiri mengakui bahwa ia bergabung dengan SLA atas kemauannya sendiri. Dalam rekaman yang ditujukan pada publik itu pula ia memilih nama baru, Tania. Patty sebagai Tania pun sejak saat itu terlihat ikut serta dalam aksi terorisme SLA, bahkan membawa senjata sendiri tanpa terlihat dipaksa. Walaupun begitu, Patty tidak bertahan lama sebagai Tania. Pada 18 September 1975, akhirnya Patty dan SLA pun tertangkap.

Patty mengaku dicuci otak oleh SLA sehingga ia mau bergabung dalam kejahatan mereka. Sayang sekali, pengakuannya tidak membebaskannya dari hukuman. Patty dinyatakan bersalah dan pada 20 Maret 1975 ia divonis 7 tahun penjara. Hukuman Patty kemudian diringankan oleh Presiden Jimmy Carter dan ia dibebaskan oada Februari 1979. Pada tahun 2001, ia menerima pengampunan penuh dari Presiden Bill Clinton.

Satu Komen

  1. Avatar

    Sungguh mengejutkan. Saya tak menyangka bahwa ada kasus tidak biasa seperti ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.